Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

Setelah acara berakhir, dan tamu undangan telah banyak yang pulang, Paman Eqbal membawaku ke tempat pengantin wanita. Di sana ternyata ada pelaminan yang telah dihias indah. Aisha sudah duduk manis duduk di sana. Aku diminta untuk duduk di sampingnya untuk diabadikan dalam foto dan video.

Aisha minta dipangku dan disuapi kue. Lalu minta dibopong dan digendong. Ia juga minta difoto dalam gaya-gaya dansa. Ada-ada saja. Ia sangat mesra dan manja. Tapi ia sangat tahu menjaga diri, ia tidak minta dicium saat itu. Kemesraan kami yang tak lama itu tidak ada yang melihat kecuali beberapa muslimah, Paman Eqbal dan Paman Akbar Ali. Saat adzan maghrib berkumandang dari menara masjid. Aku dan Aisha telah berada di dalam Limousin meluncur menuju tempat untuk malam zafaf. Menjadi sopir kami adalah Paman Eqbal Hakan Erbakan, isterinya Sarah duduk disampingnya dengan si kecil Hasan di pangkuannya. Di belakang kami mobil Paman Akbar Ali membuntuti. Ia bersama isterinya dan si kecil Amena. Selama dalam perjalanan kami diam tanpa bicara apa-apa namun tangan kami erat berpegangan.

Mobil kami terus melaju. Lampu-lampu telah menyala seperti bintangbintang. Langit merah bersemburat indah. Mobil melaju diatas jalan layang yang membelah Ramsis. Terus ke Barat. Apakah Paman Eqbal akan membawa kami ke hotel? Aku tidak tahu. Semua mahasiswa Indonesia yang menikah di Cairo tidak ada yang menghabiskan malam pertama di hotel. Semuanya menghabiskan malam pertama di rumah kontrakan yang sederhana. Di depan sudah tampak sungai Nile. Kami melewati Ramses Hilton. Mobil terus melaju. Aisha menyandarkan kepalanya di pundakku. Aku merasakan suasana yang sangat indah. Kami berada di atas Jembatan 6th Oktober yang menyeberangi sungai Nil. Restauran dan night club terapung telah menyalakan lampunya. Di depan sana agak ke selatan di tengah daratan seperti pulau di tengah sungai Nil tampak Cairo Tower menjulang tinggi. Daratan yang dikelilingi sungai Nile itu disebut daerah El-Zamalik. Kawasan yang sangat elite dan indah. Eqbal membelokkan mobil dan turun dari jembatan ke El-Gezira Street. Kami berada di daerah El-Zamalik. Mobil terus berjalan ke utara menyusuri pinggir sungai Nil. Melewati Cairo Marriot Hotel. Melewati Kedutaan Swedia. Akhirnya sampai di Muhamad Mazhar Street. Di sebuah gedung bertingkat dua belas yang berada tepat di pinggir sungai Nile kami berhenti.

Paman Eqbal membawa kami masuk. Di dalam gedung dekat tangga naik dan lift ada dua penjaga berdasi dan membawa senapan otomatis. Paman Eqbal berbincang dengan mereka sebentar lalu menarik lenganku.

“Ini saudara saya, Fahri Abdullah dari Indonesia, dia nanti yang akan menempati flat nomor 21 bersama isterinya. Mereka berdua akan menggantikan Mr. Edward Minnich yang telah pindah bulan yang lalu.”Kata Paman Eqbal memperkenalkan diriku. Dua penjaga itu tersenyum dan menjabat tanganku sambil berkata, “Selamat datang di apartemen ini pengantin baru!” Penampilanku dan Aisha memang mudah sekali ditebak.

Kami lalu masuk lift dan naik ke lantai tujuh. Tiap lantai ada tiga flat. Flat nomor, 19, 20 dan 21 berada dalam satu lantai. Paman Eqbal membuka pintu flat nomor 21. Kami masuk. Paman Eqbal menyalakan lampu. Dan tampaklah sebuah ruangan tamu yang mewah. Lebih mewah dari rumah Bapak Atase Pendidikan di Dokki. Kami duduk di sofa yang empuk. Tak lama kemudian Paman Akbar Ali dan isterinya masuk. Mereka langsung duduk.

“Gimana pengantin baru, kalian sudah siap?” tanya Paman Eqbal sambil tersenyum.

Aku diam tidak menjawab kecuali dengan senyum.

“Baiklah Fahri, kau berbahagialah malam ini bersama isterimu. Kami tidak akan lama-lama di sini. Ini kuncinya peganglah. Dua penjaga itu yang hitam namanya Hosam dan yang kuning namanya Magdi. Kau sudah lama di Mesir jadi kau tidak akan asing berada di sini. Jika ada apa-apa telpon aku. Kami pamit dulu. Semoga umur kalian penuh berkah.” Pamit Paman Eqbal sambil berdiri dari duduknya.

“Aisha dan kau Fahri, kami juga pamit. Malam ini juga kami akan terbang ke Istanbul. Sudah tiga hari kami di sini. Nanti kalau ada waktu kami akan mengunjungi kalian,” kata Akbar Ali Faraughi, paman Aisha. Aisha memeluk pamannya dengan mata berkaca-kaca. Lalu gantian aku memeluknya, dan dia berbisik, “Jaga dia baik-baik Fahri, aku percaya padamu!”

“Insya Allah, paman. Doanya. Salam buat seluruh keluarga di Turki.” jawabku. Kulihat Aisha lalu berpelukan dengan Elena Hashim, isteri Akbar Ali. Setelah itu ia memeluk bibinya, Sarah Ali Faraughi dengan tangis pecah.

“Aisha kau sudah hidup di dunia baru. Kuatkanlah dirimu dengan takwa. Minta tolonglah kepada Allah dengan shalat dan kesabaran. Dan layanilah suamimu dengan sebaik-baiknya. Ridha suamimu adalah surgamu,” suara Bibi Sarah terdengar parau.

Mereka lalu beranjak keluar. Satu persatu meninggalkan pintu. Kami mengantar sampai di pintu. Terakhir Paman Eqbal memeluk diriku sambil berkata, “Fahri, kau tentu ingat pelajaran hadits di kuliah, Rasulullah bersabda, ‘Orang pilihan di antara kalian adalah yang paling berbuat baik kepada perempuan (isteri)nya.’ Kumohon, muliakanlah isterimu. Bawalah dia hidup di jalan yang diridhai Allah!’

“Insya Allah, doakanlah kami,” jawabku.

Tak lama kemudian mereka hilang di telan pintu lift. Kami masuk kembali ke dalam flat dan menutup pintu.

* * *

Mereka telah pergi meninggalkan kami berdua. Kami salah tingkah. Wajah Aisha merona. Tubuhku panas dingin. Kami merasa sama-sama canggung mau berbuat apa. Tapi kami merasa itulah indahnya.

“Kita belum shalat maghrib,” lirih Aisha. Ia masih berdiri tak jauh di depanku dengan wajah menunduk. Aku tersadar, waktu sudah mepet, aku harus segera memberanikan diri melakukan sesuatu. Ada sunnah Rasulullah yang harus aku amalkan ketika untuk pertama kalinya berada dalam satu kamar atau satu rumah dengan pengantinku. Aku bergerak mendekati Aisha dan menggamit tangannya.

“Kamar kita di mana, Sayang?” tanyaku pelan.

“Sini,” jawab Aisha sambil melangkah ke sebuah kamar.

Pintu kubuka. Gelap. Lampu kunyalakan, tampaklah kamar pengantin yang berhias indah, wangi dan sangat romantis. Kuajak Aisha duduk di ranjang. Aku membaca basmalah dengan segenap penghayatan akan ke-MahaRahman-an dan ke-Maharahim-an Allah. Lalu kupegang ubun-ubun kepala Aisha dengan penuh kasih sayang sambil berdoa seperti yang diajarkan baginda Nabi,

“Allaahumma, inni asaluka min khairiha wa khairi ma jabaltaha, wa a’udzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha! Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan wataknya. Dan aku mohon perlindungan-Mu dari kejahatannya dan kejahatan wataknya. Amin.”[97]

Kulihat Aisha memejamkan kedua matanya dan dari mulutnya terdengar amin..amin..amin, berkali-kali. Ia sudah mengerti bagaimana memasuki malam zafaf agar pernikahan penuh berkah. Setelah itu kulanjutkan dengan doa yang diriwayatkan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al Adzkaar,

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.