Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

Sebelum memulai mengakad Syaikh Abdul Ghafur meminta kepada semua hadirin untuk beristighfar, mensucikan hati dan jiwa. Lalu meminta kepada semuanya untuk bersama-sama membaca dua kalimat syahadat. Aku meneteskan air mata, hatiku basah. Aku belum pernah merasakan suasana sedemikian sakralnya. Syaikh Abdul Ghafur menjabat tanganku erat, lalu mewakili wali menikahkan diriku dengan Aisha. Dan dengan suara terbata-bata namun jelas aku menjawab dengan penuh kemantapan hati:

“Qabiltu nikahaha wa tazwijaha bi mahril madzkur, ala manhaji kitabillah wa sunnati Rasulillah! Aku terima nikah dan kawin dia (Aisha binti Rudolf Kremas) dengan mahar yang telah disebut, di atas manhaj kitab Allah dan sunnah Rasulullah!”

Spontan dari lantai dua terdengar wanita-wanita Mesir melantunkan zaghrudah[95] yang melengking indah. Dan Syaikh Abdul Ghafur membimbing seluruh hadirin untuk mengucapkan doa yeng telah diajarkan oleh Rasulullah Saw.:

Baralallahu laka wa baraka alaika wa jama’a bainakuma fi khair!”[96]

Masjid pun berdengung-dengung oleh doa seluruh hadirin. Hatiku terasa sejuk sekali. Air mataku terus meleleh tiada henti. Aku tiada henti mengucapkan hamdalah dalam hati. Setelah itu disambung khutbah nikah yang dibawakan Syaikh Ahmad. Khutbah yang singkat, padat, namun membuat hatiku bergetar hebat. Diakhiri dengan doa yang dipimpin Syaikh Utsman, doa yang membuat diriku lebur dalam keagungan tanda-tanda kekuasaan Tuhan.

Selesai doa, Syaikh Utsman membimbing hadirin untuk melantunkan thalaal badru, lagu kebahagiaan yang dinyanyikan kaum Anshar saat menyambut kedatangan Nabi Muhammad Saw. dan Abu Bakar Ash-Shiddiq di madinah setelah menempuh perjalanan hijrah yang panjang dan melelahkan. Para hadirin berdiri, menyalami dan merangkulku satu persatu sambil membisikkan doa barakah diiringi lantunan thalaal badru. Gerimis di hatiku tidak mau berhenti. Air mata terus saja meleleh. Aku kini telah memiliki seorang isteri. Subhanallah, wal hamdulillah, wa laa ilaaha illallah, Allahu akbar!

* * *

Seperti kesepakatan setelah akad nikah kami tidak langsung zafaf. Malam zafaf adalah setelah walimah. Dua hari lagi. Sampai rumah teman-teman menggodaku habis-habisan. Aku tanyakan pada mereka apa sudah bisa menghubungi keluarga Tuan Boutros. Belum bisa. Tidak enak rasanya jika mereka tidak menghadiri walimah nanti. Meskipun berbeda agama mereka sudah seperti keluarga sendiri.

Pukul dua belas malam teman-teman sudah tidur. Tapi aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Aku ingat banyak hal. Aku menelusuri kembali perjalanan hidupku. Sejak masih SD, jualan tape. Lalu masuk pesantren menjadi khadim Romo Kiai sambil melanjutkan sekolah di Tsanawiyah dan Aliyah milik pesantren. Dan akhirnya dengan susah payah bisa sampai Mesir. Aku menangis sendiri ditemani sepi.

Tiba-tiba handphone-ku berdering. Kulihat ada yang memanggil. Aisha! Hatiku berdegup kencang. Aku menyeka air mata dan menata perasaan. Kuangkat:

“Fahri?”

“Ya.”

“Kasihku, aku yakin kau belum tidur. Kau tidak bisa tidur. Kau pasti sedang memikirkan aku. Ya ‘kan?” Dan klik. Diputus. Aku belum sempat menjawab.

Aku gemes sekali padanya. Pada Aisha. Ia menggodaku. Kukirim sms padanya. Sebab jika kutelpon takut tidak dia angkat. Percuma.

“Aisha, aku sangat merindukanmu.” Tulisku.

“Aku sudah tahu. Bersabarlah. Allah mencintai orang-orang yang bersabar.”

Jawab Aisha. Aku menghela nafas panjang. Aku ingin shalat malam.

* * *

Pagi hari, usai shalat shubuh, di masjid Al Fath Al Islami, seluruh jamaah yang mengenalku mengucapkan selamat. Rupanya Syaikh Ahmad telah memberi tahu mereka. Dan Syaikh Ahmad mengajakku ke kamarnya di belakang mihrab. Beliau memberikan kabar bahagia mengenai Noura.

Alhamdulillah kebenaran itu terkuat juga. Dari tes DNA, gen Noura tidak sama dengan gen Si Muka Dingin Bahadur dan isterinya yaitu Madame Syaima. Gen Noura justru sama dengan milik suami isteri bernama Tuan Adel dan Madame Yasmin yang kini jadi dosen di Ains Syam University yang saat itu melahirkan bayinya bersamaan harinya dengan Madame Syaima. Dan Nadia gadis yang selama ini mereka besarkan dengan penuh kasih sayang sama gennya dengan Si Muka Dingin Bahadur dan Madame Syaima. Dua bayi itu tertukar. Noura memang mirip sekali dengan Madame Yasmin dan Si Nadia mirip dengan Madame Syaima. Mereka telah menemukan orang tua masih-masing. Noura bahagia dan Nadia nelangsa. Untungnya Tuan Adel dan Madame Yasmin tetap meminta Nadia tinggal bersama mereka. Sebab Nadia telah dianggap sebagai anaknya sendiri. Si Muka Dingin Bahadur sedang diproses atas segala kejahatannya. Mendengar kabar bahagia itu aku merasa sangat bahagia. Gadis innocent yang lembut itu akhirnya benar-benar menemukan taman kebahagiaan yang selama ini hilang.

Usai dari masjid aku mengajak musyawarah teman-teman satu rumah. Tak lama lagi aku akan meninggalkan mereka. Iuran sewa rumah bulan depan aku bayar sekalian. Jadi mereka tidak bertambah beban meskipun aku tidak lagi satu rumah dengan mereka. Namun aku minta tolong kepada mereka agar bulan berikutnya sudah ada yang menggantikan aku. Teman-teman rela melepaskan aku dan mendoakan semoga hidup bahagia. Mereka minta agar aku tidak segan dan masih sering main ke Hadayek Helwan. Mereka bertanya aku akan tinggal di mana. Aku menjawab, “Belum tahu. Semua yang mengurus isteri tercinta!” Kontan mereka menyahut bareng, “Enaknya punya isteri gadis Turki yang shalehah seperti Aisha!” Aku tersenyum mendengarnya.

Pukul sembilan Paman Eqbal—setelah akad nikah aku harus memanggilnya paman—dan tiga mahasiswa Turki datang kembali dengan pick up. Hendak mengangkut semua barangku yang tersisa. Dia belum juga mau mengatakan rumah yang akan kami tempati itu di mana. “Nanti kau akan tahu juga!” jawabnya enteng.

Hari berikutnya adalah pesta walimatul ursy di Darul Munasabat Masjid Rab’ah El-Adawea, Nasr City. Sejak ashar aku telah berada di rumah mahasiswa Turki yang telah berkeluarga di Hadidar Toni Street. Namanya Subhan Tibi. Isterinya bernama Laila Belardi. Mereka teman baik Paman Eqbal dan Bibi Sarah. Di rumah mereka yang letaknya kira-kira satu kilometer dari lokasi walimah, aku dan Aisha dirias ala pengantin Turki. Aisha benar-benar seperti bidadari. Tapi elok wajahnya tersembunyi di balik cadar tipis keemasan. Dan inilah untuk pertama kali kami duduk bersanding di dalam mobil mewah. Selama dalam perjalanan menuju tempat walimah aku tak berani menyentuhnya. Kelihatannya Aisha gemes melihat ketidakberanianku. Ia meletakkan tangannya di atas telapak tanganku. Dengan ragu-ragu aku memegang tangannya. Dan hatiku berdesir hebat. Itulah untuk pertama kalinya aku memegang tangan halus seorang gadis.

Pesta walimah sangat meriah. Di mulai tepat setelah ashar. Ada panggung di depan. Tempat lelaki dan wanita di pisah dengan satir. Pengantin lelaki berbaur dengan undangan lelaki dan pengantin wanita berbaur bersama pengantin wanita. Panggung yang indah itu rupanya untuk hiburan. Tim Shalawat Turki menunjukkan kebolehannya. Juga tim nasyid Indonesia. Ada juga pantomim, sumbangan dari teman-teman KSW. Tadzkirah di sampaikan oleh Dr. Akram Ridha, pakar psikologi yang juga seorang dai terkemuka di Kairo. Semua berjalan dengan sangat mengesan bagi siapa saja yang hadir malam itu.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.