Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

rinai tangis dalam hatiku bagai rintik hujan di kota apa gerangan makna lesu yang menyusup masuk kalbuku?[94]

Sampai di halaman rumah Eqbal aku melihat tiga mobil mewah berjajar. Rumahnya ada di lantai tiga sebuah villa mewah tak jauh dari KFC Maadi. Sebelum masuk kuhapus air mata, kutata hati dan jiwa. Aku berusaha tersenyum. Aku disambut hangat oleh Eqbal dan tiga lelaki Turki. Rumahnya tidak terlalu ramai. Eqbal memperkenalkan tiga lelaki Turki yang berpakaian rapi itu.

“Ini Ismael Akhtar, Ketua Umum Persatuan Mahasiswa Turki di Mesir, ini sekjennya Ali Naar, sedangkan ini yang baru tiba dari Turki tadi pagi adalah calon pamanmu Akbar Ali Faroughi, adik kandung ibunya Aisha.”

Akbar Ali yang gagah itu memelukku erat dan berbisik, “Senang memiliki keponakan seperti dirimu. Aisha sudah banyak bercerita tentangmu padaku. Selamat datang di keluarga besar Ali Faroughi.”

Di ruang tamu itu kami berbincang-bincang sambil menunggu Aisha yang sedang berdandan. Akbar Ali menceritakan silsilah keluarga besarnya agar aku tahu jelasnya. Ali Faroughi ayahnya dan juga kakek Aisha adalah asli Turki. Beliau lahir di kota Izmir dari keluarga pedagang kain. Lulus sekolah menengah langsung diminta ayahnya merantau ke Istambul dan membuka toko kain di sana. Beliau menuruti anjuran ayahnya. Bakat bisnisnya luar biasa besar. Tokonya maju pesat sampai akhirnya bisa membuat pabrik tekstil kecil-kecilan. Akhir tahun 1948 beliau menikah di Yordan dengan seorang gadis pengungsi Palestina sebatang kara yang seluruh keluarganya telah tewas dibantai Israel dan harta kekayaannya juga dirampas. Gadis Palestina itu beliau bawa ke Istanbul. Enam tahun kemudian, yaitu tahun 1954, lahirlah anak mereka yang pertama diberi nama Alia Ali Faroughi. Alia itulah ibu kandung Aisha. Empat tahun kemudian lahirlah Akbar Ali Faroughi dan jauh setelah itu, lima belas tahun kemudian baru lahir Sarah Ali Faroughi yang sekarang menikah dengan Eqbal Hakan Erbakan. Ali Faroughi adalah pengikut setia Al-Imam Asy-Syaikh Al-Mujaddid Badiuz Zaman Sa’id An-Nursi. Ali Faroughi wafat pada tahun 1993 pada usia 73 tahun, meninggalkan tiga buah perusahaan besar. Di antara ketiga anaknya itu yang paling cerdas dan ulet adalah Alia. Dia selalu terbaik di sekolah menengah. Dia dokter terbaik lulusan Istanbul University tahun 1976 dan langsung mendapat beasiswa ke Jerman tahun itu juga. Di Jerman Alia mengambil spesialis jantung. Setelah tiga tahun di Jerman ia menikah dengan seorang muallaf Jerman namanya Rudolf Greimas, seorang pemilik swalayan. Tahun 1981 Aisha lahir. Dan tahun 1982 Alia memperoleh gelar doktornya dengan predikat summa cumlaude dan mengambil keputusan untuk tinggal dan bekerja di Jerman. Yang menyedihkan tujuh tahun yang lalu, Alia tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di sebuah jalur cepat yang berada pinggir kota Munchen, meninggalkan Aisha yang masih belia. Aku baru tahu sebenarnya Aisha telah lama kehilangan seorang ibu.

Kira-kira setengah jam sebelum azan ashar berkumandang, Sarah Ali Faroughi, memberi tahu semuanya telah siap. Aku minta tolong pada Eqbal agar bisa melihat wajah Aisha sebelum berangkat. Aku ingin mengisi kembali energi cintaku. Aku ingin menghilangkan segala galau dan melenyapkan segala pilu yang masih terasa menyelimuti hatiku. Aku tak mau tragedi Nurul menorehkan noda dalam hatiku. Aku harus melihat wajah Aisha yang sinarnya akan menerangi semua kisi dan relung hatiku. Kesejukannya akan menyiram jiwaku.

Eqbal tersenyum padaku dan menarik lenganku. Dia membawaku masuk ke sebuah kamar di sana hanya ada tiga perempuan Turki semuanya telah memaki cadar. Eqbal minta agar Aisha membuka cadarnya. Seorang perempuan yang memakai abaya paling indah perlahan membuka cadar kuning keemasannya. Perlahan wajah yang bercahaya itu tampak dan tersenyum padaku. Aku memandangnya lekat-lekat. Aku tersihir oleh pesonanya. Tanpa sadar hatiku bertasbih dan berpuisi:

alangkah manis gadis ini

bukan main elok dan ayu

calon isteriku

matanya berbinar-binar

alangkah indahnya

Setelah kurasa cukup, aku meminta Aisha memakai kembali cadarnya. Kami pun berangkat dengan menggunakan tiga sedan Mercy. Aku bersama Eqbal dan isterinya. Aisha bersama pamannya Akbar dan isterinya. Ketua Persatuan Mahasiswa Turki bersama sekjennya. Selama dalam perjalanan aku lebih banyak mengucapkan istighfar. Aku berharap saat ini keluarga di Indonesia mengirimkan selaksa doa untukku. Mereka sudah aku beri tahu detik-detik ini aku akan membuka lembaran hidup baru. Dalam perjalanan sempat aku keluarkan pertanyaan yang mengganjal pada Eqbal, “Ayah Aisha, Tuan Rudolf Greimas, bukankah masih hidup. Apakah beliau akan datang?”

“Beliau memang masih hidup tapi tidak akan datang dan Aisha juga tidak terlalu menginginkan dia datang. Yang jelas dia sudah tahu puterinya akan menikah dengan mahasiswa Indonesia. Tentang Rudolf Greimas nanti tanyakanlah sendiri pada Aisha, kenapa sampai dia tidak mengharapkan kedatangannya,” jawab Eqbal Hakan.

* * *

Tepat saat adzan ashar berkumandang kami sampai di masjid tempat akad nikah akan dilangsungkan. Sudah banyak teman-teman mahasiswa Indonesia dan mahasiswa Turki yang sampai di sana. Aisha dan dua bibinya langsung menuju lantai dua tempat jamaah wanita. Aku menyalami teman-teman. Mereka semua tersenyum dan mengucapkan selamat padaku. Usai shalat ashar acara akad nikah dimulai.

Acara dilangsungkan di depan mihrab masjid. Syaikh Ustman, Syaikh Prof.Dr. Abdul Ghafur Ja’far, Bapak Atdikbud, Eqbal Hakan Erbakan, Akbar Ali dan beberapa syaikh Mesir yang diundang Syaikh Ustman duduk dengan khidmat tepat di depan mihrab menghadap ke arah jamaah dan hadirin yang memenuhi masjid. Rupanya saat shalat Jum’at tadi telah diumumkan akan ada acara akad nikah antara mahasiswa Indonesia dan muslimah Turki, sehingga orang Mesir yang ada di sekitar masjid penasaran dan masjidpun penuh. Aku duduk di sebelah kanan Akbar Ali. Di barisan depan hadirin tampak ketua PPMI dan pengurusnya, teman-teman satu rumah, Syaikh Ahmad Taqiyyuddin, teman-teman Mesir di program pasca dan Bapak M. Saeful Anam dari bagian Konsuler KBRI yang akan mencatat kejadian penting ini untuk mengeluarkan surat nikah resmi. Rudi yang paling suka pegang tustel sibuk membidikkan kameranya. Dua orang mahasiswa Turki juga sibuk mengabdikan peristiwa bersejarah ini dengan handycam dan kamera.

Yang menjadi pembawa acara adalah Ismael Akhtar, Ketua Umum Persatuan Mahasiswa Turki di Mesir. Bahasa Arab fushanya indah. Acara dibuka dengan basmalah dan pembacaan kalam Ilahi. Lalu sambutan singkat dari keluarga mempelai perempuan yang disampaikan Eqbal. Sambutan singkat dari keluarga mempelai pria oleh Syaikh Utsman. Barulah akad nikah. Pihak wali perempuan mewakilkan Syaikh Prof. Dr. Abdul Ghafur Ja’far untuk menikahkan Aisha.

Syaikh Abdul Ghafur Ja’far, yang tak lain adalah pembimbingku menulis tesis itu maju dan duduk di tengah lingkaran. Akbar Ali dan Eqbal Hakan menuntunku maju dan duduk di hadapan Syaikh. Mereka berdua mendampingku. Pak Atdikbud juga maju, duduk di samping Syaikh sebagai saksi. Ismael Akhtar juga maju sebagai saksi. Saiful ikut maju membawakan mahar. Aku sempat melirik ke lantai dua. Aisha dan kedua bibinya serta ratusan muslimah di sana memandang ke bawah. Ke arah prosesi sakral ini dilangsungkan.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.