Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

“Asal saya mampu, insya Allah Ustadz. Dia mahasiswi yang baik. Saya salut dan kagum padanya. Meskipun telah menjabat sebagai Ketua Wihdah tapi dia masih mau meluangkan waktu mengajar anak-anak baca Al-Qur’an di Masjid Indonsia. Dia juga orang yang mudah diminta tolong. Sangat kasihan memang kalau orang sebaik dia tidak mendapatkan apa yang dicintainya. Namanya orang kalau sudah cinta itu susah untuk tidak dipertemukan. Abu Bakar saja ketika ada seorang budak perempuan merana karena mencintai Muhammad bin Qasim bin Ja’far bin Abi Thalib hati beliau luluh. Beliau langsung menemui tuan pemilik budak itu dan membelinya, lalu mengirimnya ke Muhammad bin Qasim bin Ja’far bin Abi Thalib. Hal serupa juga dilakukan Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Cinta memang tidak mudah. Orang Inggris bilang, Love is a sweet torment. Cinta adalah siksaan yang mengasyikkan. Tapi jika orang terus tersiksa karena cinta, ia bisa binasa seperti Laila dan Majnun. Kebinasaan paling tragis adalah yang disebabkan oleh cinta,” jawabku.

Ustadzah Maemuna menyahut,

“Dan kami tak ingin melihat Nurul binasa karena cintanya pada pujaan hatinya.”

“Memangnya rasa cinta Nurul sampai seperti itu?” heranku.

“Sejak dua bulan yang lalu. Sejak ia menangis di pangkuanku, Nurul sering menangis sendiri. Berkali-kali dia cerita padaku akan hal itu. Ia ingin sekali orang itu tahu bahwa dia sangat mencintainya, lalu orang itu membalas cintanya dan langsung melaksanakan sunnah Rasulillah. Nurul anti pacaran. Tapi rasa cinta di dalam hati siapa bisa mencegahnya. Aku tahu benar Nurul siap berkorban apa saja untuk kebaikan orang yang dicintainya itu. Bantulah kami membuka hati orang itu?” kata Ustadzah Maemuna.

“Insya Allah. Saya paling tak tahan melihat seseorang tersiksa batinnya. Jadi siapakah orang yang sangat beruntung itu, orang yang dipuja dan dicintai gadis shalihah seperti Nurul?” tukasku tenang. Dalam hati aku merasa bersyukur bahwa aku mendapatkan seorang biadadari yang kucintai tanpa harus melalaui siksaan batin serumit Nurul. Tenyata menjadi seorang gadis tidak semudah menjadi seorang pemuda.

“Kau sangat mengenalnya kuharap kau tidak kaget mendengar namanya kusebut,” kata Ustadz Jalal.

“Santai saja Ustadz, insya Allah saya akan biasa saja,” jawabku santai.

“Orang yang dicintai Nurul, yang namanya selalu dia sebut dalam doadoanya, yang membuat dirinya satu minggu ini tidak bisa tidur entah kenapa, adalah FAHRI BIN ABDULLAH SHIDDIQ!”

Mendengar namaku yang disebut aku bagaikan mendengar gelegar petir menyambar telingaku. Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar dari lisan ustadz Jalal.

“Siapa Ustadz, mungkin ustadz salah ucap?” tanyaku meyakinkan apa yang aku dengar.

“Aku tidak salah ucap Fahri. Kaulah orangnya. Nurul sangat mencintaimu. Berkali-kali dia bicara denganmu langsung atau lewat telpon tapi dia tidak berani mengatakan itu. Dan sudah berkali-kali dia minta kami menemuimu mengungkapkan isi hatinya padamu, tapi baru kali ini aku sempat. Bagaimana Fahri kau bisa membantu Nurul bukan?”

Aku meneteskan air mata. Tetesan itu makin lama makin deras. Akupun tergugu. Kenapa jalan takdirnya seperti ini? Kenapa berita yang sebenarnya sangat membahagiakan hatiku ini datang terlambat. Satu-satu nama seorang gadis yang bila kudengar hatiku bergetar adalah Nurul. Nurul Azkiya. Berita yang seharusnya membuat hatiku berbunga-bunga itu kini justru membuat hatiku terasa pilu. Dalam hati aku menyumpahi kebiasaan buruk orang Jawa. Alon-alon waton kelakon! Jadinya selalu terlambat. Jika dua bulan yang lalu Nurul mengucapkan tiga kata saja: maukah kamu menikahi aku? Tak akan ada kepedihan ini. Sejak bertemu muka dengan Aisha hatiku sepenuhnya dipenuhi rasa cinta kepadanya. Dan beberapa jam lagi ikatan suci yang menyatukan cinta kami akan terjadi, insya Allah.

Dengan terisak-isak kukatakan pada Ustadz Jalal dan Ustadzah Maemunah, “Oh, andaikan waktu bisa diputar kembali. It is no use crying over spilt milk . Tak ada gunanya menangisi susu yang telah tumpah!”

Lalu kucoba menenangkan diri dan kujelaskan semuanya yang telah terjadi atas diriku. Aku tak bisa menyembunyikan tangisku saat menceritakan semuanya. Pertemuan dengan Aisha di Metro, diskusi dengan Alicia, tawaran Syaikh Utsman, pertemuan dengan Aisha dan keluarganya, sampai rencana akad nikah dan walimah yang tinggal menunggu jam D nya.

“Apa yang bisa aku lakukan untuk Nurul Ustadz, apa. Seandainya Ustadz jadi diriku apa yang bisa Ustadz lakukan?” kataku sambil tergugu, hatiku merasa pilu. Seandainya Nurul dan Aisha datang bersamaan, aku tak perlu istikharah untuk memilih Nurul. Aku lebih mengenal Nurul daripada Aisha. Tapi siapa bisa menarik mundur waktu yang telah berjalan.

Ustadz Jalal dan Ustadzah Maemuna menangis terisak-isak. Ustadz Jalal merasa sangat menyesal dan sangat bersalah pada Nurul. Sudah berkali-kali Nurul mendesaknya untuk menemui aku dan menjelaskan masalah itu tapi Ustadz Jalal selalu mengulur waktu karena konsentrasi memperbaiki disertasi doktoralnya. Yang ia sesalkan adalah kenapa beliau tidak menyempatkan sepuluh menit saja untuk menilpunku memberikan sekadar isyarat ada seorang yang mencintaiku. Ustadzah Maemuna menangis tersedu-sedu, ia tak bisa membayangkan pilunya hati Nurul. Hanya karena sebuah keterlambatan sesuatu yang paling berharga bagi jiwanya tidak ia dapatkan.

Dalam tangisku aku merasa masalah Nurul ini adalah cobaan besar bagi komitmenku atas semua kata-kataku di rumah Syaikh Utsman. Cobaan atas cinta dan kesetiaanku pada Aisha. Bisa saja aku nekad membatalkan kesepakatan dan semua rencana yang telah ditetapkan seperti dalam film India. Akad Nikah toh belum terjadi. Mahar belum aku bayarkan. Aku juga sama sekali belum pernah menyentuh Aisha. Melihat wajahnya juga baru satu kali. Tapi jika aku melakukan hal itu, namaku akan ditulis dengan lumpur hitam berbau busuk oleh sejarah. Aku akan menjadi orang munafik paling menyakitkan hati orang-orang yang kucintai dan kuhormati seperti Syaikh Utsman, Ummu Fathi, Eqbal Hakan Erbakan dan isterinya, dan tentunya paling sakit dan terzalimi adalah Aisha. Kemudian seluruh mahasiswa Turki di Mesir akan melaknat perbuatanku. Dan kelak ketika aku berjumpa dengan Baginda Nabi beliau akan murka padaku karena aku telah menyakiti perasaan sekian banyak umatnya. Aku tak mau itu terjadi. Lebih dari itu aku tidak tahu seberapa panjang umurku ini. Jika aku membatalkan pernikahan yang telah dirancang matang, aku tidak tahu apakah Allah masih akan memberikan kesempatan padaku untuk mengikuti sunnah Rasul. Ataukah aku justru tidak akan punya kesempatan menyempurnakan separo agama sama sekali. Tidak selamanya perasaan harus dituruti. Akal sehat adalah juga wahyu Ilahi.

 

17. Ikatan Suci

Apa yang terjadi antara diriku dan Nurul adalah tragedi yang sangat memilukan. Aku tak memungkiri, di dalam taksi selama perjalanan menuju rumah Eqbal Hakan Erbakan, hatiku menangis. Aku ini siapa? Nurul sungguh terlalu. Apakah dia bukan orang Jawa? Aku ini orang Jawa. Di Jawa, seorang khadim kiai dan batur santri, anak petani kere, mana mungkin berani mendongakkan kepala apalagi mengutarakan cinta pada seorang puteri kiai. Dia sungguh terlalu menunggu hal itu terjadi padaku. Semestinya dialah yang harus mengulurkan tangannya. Dia sungguh terlalu berulang kali ketemu tidak sekalipun mengungkapkan perasaannya yang mungkin hanya membutuhkan waktu satu menit. Atau kalau malu hanya dengan beberapa baris tulisan tangannya tragedi ini tidak akan terjadi. Menyatakan cinta untuk menikah di jalan Allah bukanlah suatu perbuatan tercela. Dia sungguh terlalu. Tapi dia tidak keliru. Dia telah menempuh jalan yang benar. Dia benar-benar gadis shalihah yang pemalu. Yang terlalu sesungguhnya adalah Ustadz Jalal dan Ustadzah Maemuna. Mereka berdua sungguh terlalu. Atau justru aku yang terlalu dan begitu dungu.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.