Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

Yang aku belum bisa mengerti adalah di manakah nanti aku setelah menikah? Aku telah berusaha menyewa rumah di Hayyu Tsamin tapi Eqbal tidak mengizinkannya. Katanya rumahnya telah disiapkan oleh Aisha. Aku ingin tahu rumahnya di mana dan sewanya perbulan berapa, tapi dia juga tidak mau memberitahukannya, katanya biar surprise sesuai permintaan Aisha. Yang jelas, kata dia, rumah itu memang sangat layak untuk tinggal memadu kasih bersama Aisha. Aku pasrah saja, aku tidak meragukan ketulusan mereka.

Satu hari menjelang akad nikah Eqbal dan dua orang Turki datang dengan membawa mobil pick up. Dia bilang akan mengangkut barang-barangku untuk di tata di rumah baru. Aisha yang memintanya. Komputer, beberapa stel pakaian, dan puluhan jilid buku dan kitab penting diangkut. Aku tidak boleh ikut.

“Insya Allah, semuanya akan beres dan aman. Saat ini kau adalah raja yang tidak boleh susah. Kami berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian berdua. Dan jangan lupa selesai shalat Jum’at kau langsung ke rumahku di Maadi. Kita akan berangkat ke Shubra bersama,” kata Eqbal yang sebentar lagi harus kupanggil paman.

Ketika melihat kamarku yang berubah dan kehilangan banyak isinya aku menitikkan air mata. Waktu terus berjalan. Manusia tidak bisa menentang perubahan. Tak lama lagi aku akan meninggalkan kamar tercinta ini. Aku akan meninggalkan teman-teman dan membuka lembaran hidup baru bersama seorang isteri bernama Aisha.

berjalan di titian kodrat (apa yang harus kita katakan) jika berharap Dia menentukan[93]

* * *

Ketika fajar Jum’at merekah di ufuk timur, aku berkata dalam hati, “Inilah hariku.” Tiada sabar rasanya menunggu ashar tiba. Matahari seperti diganduli malaikat. Hari terasa berat. Waktu sepertinya berjalan begitu lambat.

Usai shalat shubuh teman-teman telah bersiap. Mereka kubagi tugas. Rudi shalat Jum’at di Masjid Indonesia menjadi petunjuk jalan bagi Pak Atdikbud. Mishbah ke Wisma Nusantara menjadi petunjuk jalan bagi bus yang disediakan untuk teman-teman undangan. Jarak Nasr City-Shubra tidak dekat. Sedangkan Hamdi dan Saiful nanti begitu selesai shalat Jum’at langsung ke Shubra. Aku sendiri usai shalat Jum’at langsung ke rumah Eqbal Hakan Erbakan.

Pukul delapan tepat telpon berdering, kukira dari Eqbal. Ternyata tidak. Dari Ustadz Jalal. Katanya beliau dan isterinya telah sampai di mahattah metro Hadayek Helwan. Beliau datang untuk membicarakan masalah yang dulu pernah beliau pesankan melalui Nurul. Kuminta Saiful untuk menjemput Ustadz Jalal. Aku jadi merasa tidak enak tidak mengundang beliau secara langsung untuk menghadiri akad nikah. Kutanyakan pada teman-teman apakah undangan walimah untuk beliau sudah sampai. Tidak tahu, mungkin belum, sebab undangan itu dititipkan pada Mas Khalid. Dan rencananya Mas Khalid akan menyampaikannya usai shalat Jum’at nanti. Meskipun terkesan sangat mepet dan mendadak terpaksa nanti Ustadz Jalal akan kumohon untuk datang ke acara akad nikah.

Ustadz Jalal dan ustadzah Maemuna, isterinya, sampai dengan wajah cerah. Mereka datang cuma berdua, tidak membawa ketiga anak mereka.

“Mana keponakan-keponakanku Ustadz? Kenapa tidak dibawa serta?” tanyaku basa-basi.

Hamdi datang dengan nampan berisi tiga gelas teh Arousa panas dan satu piring roti bolu. Entah dapat bolu dari mana anak itu.

“Sekali-kali kami ingin bepergian berdua tanpa diganggu anak-anak. Biar bisa sedikit mesra. Pagi ini kami benar-benar menikmati perjalanan dengan metro. Dari Ramsis sampai Hadayek Helwan sepi, hawanya juga sejuk,” jawab Ustadz Jalal.

“Mereka ditinggal sendirian di rumah?” heranku.

“Tidak. Kebetulan Nurul dan teman-temannya usai shalat shubuh tadi datang ke rumah. Jadi mereka yang menjaga,” sahut Ustadzah Maemuna.

“O begitu, syukurlah. Ngomong-ngomong Ustadz dan Ustadzah menyempatkan untuk berkunjung kemari ada yang bisa saya bantu?” ucapku.

Ustadz Jalal memberi tahu ada masalah sangat penting dan rahasia yang ingin beliau bicarakan denganku. Beliau minta tempat yang aman. Kubawa beliau dan Ustadzah Maemuna ke dalam kamarku yang berantakan. Pintu kututup rapat.

“Kok berantakan begini. Komputermu dan kitab-kitabmu tidak ada. Mau pindahan nih, atau malah sedang pindahan?” komentar Ustadz Jalal.

“Nanti setelah masalah Ustadz selesai akan aku ceritakan, insya Allah. Silakan Ustadz bicara,” jawabku.

“Kami berdua datang kemari memohon bantuanmu menyelesaikan suatu masalah serius. Tidak masalah kami sebenarnya, tapi masalah seseorang yang dekat dengan kami. Dan yang paling tepat untuk kami minta pertolongan adalah engkau, Fahri. Kami sangat berharap engkau bisa membantu,” kata Ustadz Jalal.

“Kau saya diberi kemampuan untuk itu. Insya Allah. Masalah apa itu Ustadz?”

“Ini masalah serius yang mengancam jiwa Nurul?”

Mendengar hal itu pikiranku langsung tertuju pada buntut peristiwa Noura bersembunyi di rumah Nurul. Jangan-jangan Si Muka Dingin Bahadur tahu itu dan memperkarakannya, tapi kalau itu masalahnya kenapa diriku tidak ikut diperkarakan?.

“Bagaimana jiwa Nurul bisa terancam Ustadz? Apa yang terjadi padanya, dan apa yang bisa saya lakukan untuk membantunya?”

“Kau tahu Nurul adalah puteri tunggal Bapak KH. Ja’far Abdur Razaq, pengasuh pesantren besar di Jawa Timur. Selain cantik dia juga cerdas dan halus budi. Sejak masih kelas satu aliyah sudah banyak kiai besar yang melamar Nurul untuk puteranya. Nurul tidak mau. Ketika akhirnya Nurul belajar di Al Azhar pinangan itu justru semakin banyak. Kiai Ja’far ayah Nurul berkali-kali menelpon Nurul agar segera menentukan pilihan pendamping hidupnya. Beliau merasa sangat tidak enak menolak pinangan terus menerus. Apalagi jika pinangan itu datangnya jadi kiai yang lebih senior dari beliau atau dari guru beliau. Jika Nurul sudah tunangan atau menikah dengan seseorang yang dipilihnya tentu kedua orang tua Nurul akan lebih tenang. Dan jika berjumpa dengan para kiai-kiai di Jawa Timur tidak akan terbebani oleh sindiran-sindiran halus dari para kiai yang meminang puterinya. Dua bulan yang lalu ayahnya menelpon ada pinangan dari Kiai Rahmad untuk puteranya Gus Anwar. Kiai Rahmad ini adalah gurunya ayah Nurul waktu mondok di Bandar Kidul Kediri. Ayah Nurul tidak bisa menolaknya kecuali Nurul sudah memiliki seorang calon di Mesir. Jika tidak, maka Nurul terpaksa harus menerima pinangan itu. Inilah masalahnya.”

“Nurul sendiri bagaimana? Saya mendengar ada beberapa mahasiswa yang suka dengannya.”

“Memang ada beberapa mahasiswa yang mendekati dia secara baik-baik. Ada yang secara langsung. Ada juga yang lewat kami atau teman satu rumahnya. Tapi tak ada yang cocok di hatinya. Ternyata sejak dua tahun yang lalu diam-diam Nurul telah kagum dan jatuh hati pada seseorang. Tapi sayangnya Nurul tidak berani mengungkapkannya karena rasa malunya yang tinggi. Ia berharap orang yang dicintainya terbuka hatinya dengan dan meminangnya tapi sepertinya orang yang dicintainya tidak tahu kalau Nurul mencintainya. Rasa cinta Nurul padanya membuncah dan tak bisa dia sembunyikan sejak dua bulan yang lalu. Sejak ayahnya menelponnya untuk menerima Gus Anwar atau mencari calon sendiri di Mesir yang shalih. Saat itu dia menangis pada isteriku. Ia mengungkapkan seluruh isi hatinya. Ia minta kepada isteriku untuk membantunya. Isteriku memberi saran untuk berterus terang saja pada orang yang dicintainya itu. Tapi Nurul tidak mau, ia sangat malu. Nurul minta pada isteriku agar aku yang bicara dengan orang itu. Aku sangat sibuk sekali dan aku merasa tidak tepat untuk bicara pada orang yang dicintai Nurul itu. Akhirnya aku merasa aku perlu minta bantuanmu. Kau sangat dekat dengan orang itu. Sudah berkali-kali Nurul bertanya padaku bagaimana hasilnya. Aku tidak bisa menjawabnya. Sebab aku belum bertemu denganmu. Kau sibuk aku pun sibuk. Baru kali ini aku bisa bertemu denganmu. Aku sangat berharap kau bisa membantu.”

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.