Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

“Akh Fahri, bagaimana, kau siap menerima Aisha sebagai isterimu?” tanya Eqbal dengan suara tegas. Aku malah meneteskan air mata.

“Akh Eqbal, semestinya bukan aku yang kau tanya. Tanyalah Aisha, apakah dia siap memiliki seorang suami seperti aku? Kau tentu sudah tahu siapa aku. Aku ini mahasiswa yang miskin. Anak seorang petani miskin di kampung pelosok Indonesia,” jawabku terbata-bata sambil terisak. “Apakah aku kufu dengannya? Aku merasa tidak pantas bersanding dengan keponakanmu itu. Aku tidak ingin dia kecewa di belakang hari,” lanjutku.

“Baiklah, biar Aisha sendiri yang menjawabnya. Bicaralah Aisha, jangan malu,” ujar Eqbal.

Aku mencuri pandang melihat Aisha. Ia menundukkan kepalanya. Bulu matanya yang lentik bergerak-gerak.

“Baiklah, aku akan bicara dari hatiku yang terdalam. Fahri, dengan disaksikan semua yang hadir di sini, kukatakan aku siap menjadi pendamping hidupmu. Aku sudah mengetahui banyak hal tentang dirimu. Dari Paman Eqbal, dari Nurul dan orang-orang satu rumahnya. Dari Ustadzah Maemuna isteri Ustadz Jalal. Dari Ruqoyya, isteri Aziz. Aku akan sangat berbahagia menjadi isterimu. Dan memang akulah yang meminta Paman Eqbal untuk mengatur bagaimana aku bisa menikah denganmu. Akulah yang minta.” Aisha menjawab dengan bahasa Arab fusha yang terkadang masih ada sususan tata bahasa yang keliru namun tidak mengurangi pemahaman orang yang mendengarnya. Suaranya terasa lembut dan indah, lebih lembut dari suaranya saat berkenalan di Metro dan beberapa kali bertemu, di Tahrir dan di National Library. Aku tidak tahu kenapa. Apakah karena aku kini telah jatuh cinta padanya? Jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Dan semoga juga yang terakhir kalinya.

“Bagaimana Fahri, Kau sudah mendengar sendiri dari Aisha, sekarang kau bagaimana?” ujar Eqbal sambil memandang ke arahku. Semua mata tertuju ke arahku, kecuali mata si kecil Amena dan Hasan. Aku memberanikan diri untuk menatap wajah Aisha, agak sedikit lama. Aisha memandangku, ia menanti jawabanku. Aku merasa tak mampu menahan air mata yang meleleh.

“Jika Aisha sedemikian mantapnya dan percaya padaku, maka, bismillah, aku pun mantap menerima Aisha untuk jadi isteriku, pendamping hidupku dan ibu dari anak-anakku, aku akan sepenuh hati percaya padanya,” kataku dengan suara parau bergetar, dengan mata tetap menatap Aisha. Aku melihat mata Aisha berkaca-kaca. Suasana hening dan haru menyelimuti ruangan itu.

“Aku jadi teringat lima puluh tahun yang lalu, saat mengkhitbah Ummu Fathi, suasananya tak jauh berbeda. Penuh dengan perasaan cinta dan nuansa indah yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.” Suara Syaikh Utsman memecahkan keheningan dan keharuan. Syaikh Utsman lalu bercerita tentang hari-hari pertamanya membangun rumah tangga. Banyak hal lucu penuh hikmah yang beliau kisahkan. Terkadang Ummu Fathi yang juga sudah tua menyela. Suasana jadi lebih hidup.

Pembicaraan terus berlanjut ke masalah kami berdua, masalah diriku dan masalah Aisha. Syaikh Utsman mampu menggiring kami untuk membuka diri. Aku berterus terang tentang sakitku sebulan yang lalu. Aisha membuka dirinya pernah sakit Asma. Aku ungkapkan kembali persyaratan ibuku, bahwa isteriku mau tidak mau harus hidup dan berjuang di Indonesia.

“Diriku sudah aku wakafkan di jalan Allah. Aku siap hidup dan berjuang di mana saja mendampingi perjuangan suamiku tercinta.” Tegas Aisha tanpa ragu sedikitpun.

Kami lalu berbicara tentang harapan masing-masing. Cita-cita dan idealisme masing-masing. Aku merasa apa yang diharapkan dan dicita-citakan Aisha tidak ada yang berseberangan jauh dengan apa yang aku harapkan dan aku cita-citakan. Dia ingin suami yang sepenuh hati mencintainya, menjadikan dirinya satu-satunya isterinya, setia dalam suka dan duka, perhatian pada keluarga, dan tidak melalaikan tugas berjuang di jalan Allah. Itu adalah juga yang aku inginkan dari isteriku. Aku ingin isteri yang shalihah, setia dan tidak mengkhianati Allah dan Rasul-Nya.

Setelah pembicaraan berlangsung lama, rasa canggung tidak lagi penghalang untuk mengungkapkan segala yang ingin diungkapkan. Aku bahkan tanpa perlu malu, dan dengan penuh keterus-terangan membuka kemampuanku mencari nafkah saat ini. Andalanku adalah terjemahan. Dan karena sedang konsentrasi penulisan tesis, aku tidak bisa menerjemah sebanyak yang kemarin.

Aku jelaskan nominal yang kira-kira masuk tiap bulan. Itu pun terkadang

terlambat pembayarannya. Juga uang yang aku punya saat ini.

Aisha menjawab dengan tenang,

“Alhamdulillah aku sudah mempelajari sifat perempuan Jawa. Aku sangat kagum pada mereka. Mereka adalah perempuan yang sangat setia, dan peduli pada keluarga. Di Jawa seorang isteri terlibat sepenuhnya dalam masalah keluarga. Isteri ikut memikirkan bagaimana dapur mengepul. Perempuan Jawa bisa hidup sederhana. Seperti Fatimah Zahra puteri Rasulullah bisa hidup sangat sederhana, yang mengambil air dan membuat roti sendiri. Padahal dia puteri seorang nabi agung. Aku siap untuk hidup seperti Fatimah Zahra. Aku sudah meneliti mahasiswa Indonesia, khususnya dari Jawa yang berkeluarga di Cairo. Mereka hidup sangat sederhana. Mengatur uang yang ada sebaik-baiknya. Saling melengkapi. Aku siap hidup seperti mereka. Menurut Ruqoyya isteri seorang mahasiswa bernama Aziz yang berjualan tempe. Dengan uang 150 dollar ia sudah bisa hidup normal meskipun sangat sederhana dengan menyewa rumah yang sederhana. Aku bahkan siap untuk hidup lebih buruk dari itu. Aku siap dalam suka maupun duka.”

Aku mantap dengan apa dengar dari Aisha. Semoga apa yang ia katakan adalah apa yang keluar dari hatinya. Kata-kata adalah cermin jiwa.

Lalu aku mengutarakan masalah cadar yang dipakai Aisha. Bukan aku tidak setuju atau menentangnya. Tapi untuk fiqh dakwah di Indonesia lebih hikmah tidak pakai cadar. Aku jelaskan kondisi masyarakat di desaku dan sekitarnya. Perempuan bercadar akan dianggap sangat aneh dan mencurigakan.

“Jangan kuatir. Aisha dan Sarah isteriku adalah muslimah-muslimah moderat. Itu tidak akan menjadi masalah. Sarah sendiri kalau pulang ke Turki tidak memakai cadar. Menurut mayoritas Ulama, menutup wajah bagi perempuan tidak wajib. Yang wajib adalah menutup seluruh aurat kecuali telapak tangan dan wajah,” jelas Eqbal.

“Ya. Paman Eqbal benar,” sahut Aisha.

Setelah segala yang bersifat pribadi dirasa cukup, dan kami merasa benarbenar akan bisa menjadi pasangan hidup yang serasi, bisa saling mengisi dan melengkapi, pembicaraan berlanjut ke masalah akad nikah dan pesta walimatul ‘ursy. Aisha ingin akad dan pesta dilaksanakan secepatnya. Setelah dikalkulasi dan timbang paling cepat akad dilaksanakan satu minggu lagi dan pestanya dua hari setelahnya. Akhirnya ditetapkan akad nikah akan dilaksanakan Jum’at depan, tanggal 27 Sepetember, di masjid Abu Bakar Shiddiq setelah shalat Ashar. Karena nantinya Aisha akan tinggal di Indonesia, maka aku harus mengurusi segalanya yang berkaitan dengan dokumen pernikahan yang diakui di Indonesia. Aku jelaskan itu mudah. Eqbal akan melengkapi semua dokumen Aisha yang diperlukan untuk Kedutaan Besar Republik Indonesia. Aisha bilang ia juga akan mencatatkan pernikahannya ke kedutaan Jerman.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.