Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

Ummu Fathi keluar membawa nampan berisi dua gelas air putih. Untuk kami berdua. “Anakku, ayo diminum dulu. Kau tampaknya kehausan,” ucap Syaikh Fathi. Aku meneguk sedikit. “Lima menit lagi, mereka insya Allah datang!” sambung beliau. Jantungku berdegup kencang. Panas dingin tubuhku semakin kuat terasa. Aku banyak beristighfar di dalam hati untuk menenangkan diri.

Bel berbunyi.

“Itu mereka datang. Kau tetaplah duduk di tempatmu!” kata Syaikh Fathi. Aku tidak bisa lagi menangkap nuansa yang menyergap hatiku. Berbagaimacam perasaan bercampur menjadi satu; penasaran, rindu, malu, gugup, takut, cemas, tidak percaya diri, optimis, senang, dan bahagia. Ummu Fathi mengambil dua gelas berisi air putih itu. Sementara Syaikh Fathi beranjang membukakan pintu.

Suara pintu di buka. Aku sama sekali tidak berani memandang ke arah pintu yang hanya dua meter di sampingku.

“Assalamu’aikum!” Hatiku berdesir keras. Suara lelaki. Bukan suara orang Indonesia, tapi suara itu memang sangat khas dan aku sangat mengenalnya. Aku masih menunduk.

“Wa’alaikumussalam wa rahmatullah. Ahlan wa sahlan. Ayo masuk! Fahri, berdirilah sambutlah calon pamanmu!” Suara Syaikh Utsman membuatku tergagap. Aku berdiri. Dan….

Subhanallah!

Lelaki yang berdiri di hadapanku adalah Eqbal Hakan Erbakan. Dia tersenyum padaku. Hatiku terasa dingin sekali. Aku berusaha tersenyum. Aku tak tahu seperti apa raut mukaku. Aku sungguh-sungguh terkejut. Kami berangkulan erat sekali. “Kaif halak ya ‘aris!” Eqbal membisikkan kata sapaan padaku, yang dalam kata sapaan ada kata-kata yang menggoda. Dia sudah memanggilku ‘ya ‘aris’, wahai pengantin pria.

“Alhamdulillah,” lirihku.

Di belakang Eqbal ada dua perempuan bercadar dan dua anak kecil yang lucu. Aku kenal dengan dua anak kecil itu. Amena dan Hasan. Amena membawa boneka panda. Aku jadi teringat itu boneka yang kutitipkan lewat Aisha. Dan Hasan membawa pistol air mainan. Dua perempuan bercadar itu menatapku sekilas, lalu beranjak menyalami Ummu Fathi. Mereka berpelukan bergantian. Eqbal menarik tangan Amena dan Hasan agar bersalaman denganku. Aku berjongkok. Melihat Amena dan Hasan yang lucu rasa grogiku sedikit berkurang. Aku cium kening Amena yang baru berumur lima tahun itu juga kening Hasan yang baru tiga tahun. Eqbal minta pada Amena untuk berterima kasih padaku atas hadiahnya.

“Syuklon alal hadieh el jamileh, Am…amu Andonesy.”[89] Lirih Amena terbata-bata dengan suara agak cedal. Kontan Syaikh Utsman tertawa. Aku tersenyum saja.

Ummu Fathi, isteri Syaikh Utsman mempersilakan yang bernama Aisha agar duduk di sofa yang menghadap ke timur. Dan mempersilakan isteri Eqbal duduk di dekat Aisha, sofa yang menghadap ke selatan. Beliau sendiri duduk tepat di depannya. Syaikh Utsman duduk di sampingnya, dekat denganku. Dan Eqbal duduk berhadapan dengan Syaikh Utsman, juga berdekatan denganku. Si kecil Amena duduk di pangkuan ibunya. Dan si kecil Hasan berdiri di depan ayahnya.

Pembicaraan di mulai. Jantungku mulai berdegup kencang. Tubuhku panas dingin. Kini aku tahu gadis itu adalah Aisha. Keponakan Eqbal Hakan Erbakan. Syaikh Utsman benar, Aisha telah mengenalku dan aku telah mengenalnya. Perkenalan yang begitu singkat. Aisha mungkin tahu banyak tentang diriku. Ia mungkin telah mendapat banyak info dari Eqbal. Sebab selama bersahabat dengan Eqbal dan selama i’tikaf di masjid Helmeya Zaitun kami sudah seperti keluarga sendiri. Eqbal banyak cerita tentang dirinya dan keluarganya. Masa kecilnya. Bagaimana bisa ke Mesir. Bagaimana bisa menikah dengan Sarah yang kini jadi isterinya. Sarah yang dari keluarga konglomerat Turki namun sangat kuat penghayatannya atas Islam. Aku pun telah cerita banyak pada Eqbal. Tentang keluargaku yang miskin. Tentang bagaimana diriku datang ke Mesir dengan menjual sawah warisan kakek. Harta satu-satunya yang dimiliki keluarga. Tentang awal-awal di Mesir yang penuh derita. Tak ada beasiswa. Tak ada pemasukan. Kerja membantu Bang Aziz mendistribusikan tempe ke rumah-rumah mahasiswa dari Indonesia dan Malaysia. Jualan beras dengan cara mengambil beras dari pelosok Mesir seperti Zaqaziq dan menjual ke teman-teman mahasiswa. Dan lain sebagainya. Aisha mungkin telah tahu banyak tentang diriku, tapi aku apa yang aku ketahui tentang dirinya. Melihat mukanya saja belum.

Sarah, isteri Eqbal berbicara dengan Ummu Fathi. Sesekali Syaikh Fathi dan Eqbal menimpali. Sarah menceritakan siapa Aisha ini.

Aku memandang ke arah Aisha, pada saat yang sama dua matanya yang bening di balik cadarnya juga sedang memandang ke arahku. Pandangan kami bertemu. Dan ces! Ada setetes embun dingin menetes di hatiku. Kurasakan tubuhku bergetar. Aku cepat-cepat menundukkan kepala. Dia kelihatannya melakukan hal yang sama. Kukira Aisha tidak setegang diriku, sebab dia merasa lebih santai. Wajahnya tersembunyi di balik cadarnya. Sementara diriku, aku tidak tahu seperti apa bentuk mukaku. Aku harus mencari cara untuk menghilangkan ketegangan ini. Si kecil Hasan memandangi aku. Aku tersenyum padanya. Kutarik dia ke pangkuanku. Dia menurut.

Dengan adanya Hasan di pangkuanku aku jadi merasa lebih nyaman. Aku bisa membelai-belai rambutnya. Hasan anak yang penurut. Kelihatannya ia benarbenar masih ingat padaku. Sesekali ia berceloteh dan aku menanggapi lirih sambil mencium kepalanya gemas. Dan di balik cadar, mata bening Aisha memperhatikan apa yang aku lakukan.

“Ini adalah majelis ta’aruf[90] untuk dua orang yang sedang berniat untuk melangsungkan pernikahan. Menurut ajaran nabi, seorang pemuda boleh melihat wajah perempuan yang hendak dinikahinya. Untuk melihat daya tarik dan untuk menyejukkan hati. Maka lebih baiknya Anakku Aisha membuka cadarnya. Meskipun Fahri sudah melihat wajahmu lewat album foto. Tetapi dia harus melihat yang asli sebelum melangsungkan akad nikah. Bukankah begitu Ummu Amena?” Kata-kata Ummu Fathi ini membuat jantungku berdesir. Sebentar lagi Aisha akan menanggalkan cadarnya, dan aku..masya Allah..aku akan melihat wajah calon isteriku.

Aku memandang Aisha. Dia memandangku lalu menunduk. Kelihatannya dia sangat malu dan salah tingkah.

“Aisha, bukalah cadarmu! Calon suamimu berhak melihat wajah aslimu,” desak Sarah, bibinya.

Sambil mendekap Hasan aku menyaksikan tangan kanan Aisha perlahanlahan membuka cadarnya. Ada hawa sejuk mengalir dari atas. Masuk ke ubunubun kepalaku dan menyebar ke seluruh syaraf tubuhku. Wajah Aisha perlahan terbuka. Dan wajah putih bersih menunduk tepat di depanku. Subhanallah. Yang ada di depanku ini seorang bidadari ataukah manusia biasa. Mahasuci Allah, Yang menciptakan wajah seindah itu. Jika seluruh pemahat paling hebat diseluruh dunia bersatu untuk mengukir wajah seindah itu tak akan mampu. Pelukis paling hebat pun tak akan bisa menciptakan lukisan dari imajinasinya seindah wajah Aisha. Keindahan wajah Aisha adalah karya seni mahaagung dari Dia Yang Maha Kuasa. Aku benar-benar merasakan saat-saat yang istimewa. Saat-saat untuk pertama kali melihat wajah Aisha.

“Bagaimana apakah kalian sudah benar-benar siap membangun rumah tangga berdua?” Pertanyaan Syaikh Fathi membuat diriku mendongakkan kepala. Aisha juga melakukan hal yang sama. Pandangan kami bertemu. Dan ces! Hatiku seperti ditetesi embun dingin dari langit. Entah hati Aisha. Lalu kami kembali menundukkan kepala. Aku diam tidak menjawab.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.