Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

Aku pulang dengan membawa dua album foto yang kumasukkan dalam tas cangklongku. Aku merasa seperti memikul beban satu ton. Tas cangklong itu terasa berat sekali.

Sampai di kamar aku memegang album itu dengan tangan gemetar, dan hati bergetar. Aku akan melihat wajah calon bidadari yang menemani hidupku selamanya. Aku akan melihat wajah calon belahan jiwa. Tapi entah kenapa aku tidak berani membukanya sama sekali. Dua album itu cuma aku pegang dan tanpa kubuka sedikitpun. Aku tersentak, aku belum tahu namanya. Kenapa tidak aku tanyakan namanya pada Syaikh Utsman? Aku ingin membukanya, siapa tahu di dalam Album itu ada namanya. Tapi urung. Aku tidak berani. Entah kenapa. Aku shalat istikharah, yang datang adalah ibunda tercinta. Beliau berkata singkat, “Menikahlah ibu merestui.”

Hari berikutnya aku kembali menemui Syaikh Utsman dan kukatakan kemantapanku untuk menikahi gadis itu. Syaikh Utsman berkata,

“Aku sudah menduga dan aku sangat yakin kau akan mengatakan itu. Aku memang belum melihat gadis itu, tapi isteriku, Ummu Fathi, yang melihat fotofoto dalam album itu memuji-muji kecantikannya. Ummu Fathi malah bilang jika kau sampai tidak mau, maka ia memintaku agar menjodohkan dengan cucuku yang sedang kuliah di Perancis. Aku geli sekali mendengar perkataan Ummu Fathi. Dan kau nanti akan kaget karena tadi malam walinya bilang gadis itu sangat mengenalmu, dan kau mungkin telah mengenalnya. Kau sudah melihatnya, kau mengenalnya bukan?”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku sama sekali belum melihat album itu dan aku sama sekali tidak tahu namanya. Aku diam saja. Gadis itu jadi rasa penasaran dalam hati yang luar biasa. Aku telah menyatakan kemantapanku tapi aku belum tahu siapa dia. Aku menjadi orang yang paling penasaran di dunia. Syaikh Utsman minta kepadaku agar besok datang tepat setelah shalat Ashar, kalau bisa shalat Ashar di Shubra. Jadwal mengaji qiraah sab’ah diundur hari berikutnya. Besok aku akan dipertemukan dengan gadis itu bersama walinya. Untuk saling melihat dan saling mengenal sebelum kata sepakat untuk akad nikah diputuskan.

Malam itu, malam sepulang dari rumah Syaikh Utsman adalah malam paling menyiksa dalam hidupku. Namun ada kesejukan yang sedemikian lembut mengaliri relung-relung hatiku. Kesejukan itu apa aku tidak tahu namanya. Saiful rupanya sangat memperhatikan kesibukkanku selama ini. Dia bertanya ini itu tapi masalah diriku sedang proses ke gerbang pernikahan sama sekali tidak aku beritahukan padanya, juga pada siapa saja. Malam itu aku tidak bisa tidur, aku menutup kamar, dan berada di kamar seperti orang linglung. Siapa gadis itu? Dia mengenalku dan aku mengenalnya, siapa dia? Jangan-jangan gadis itu bukan gadis Mesir. Aku membodoh-bodohkan diriku kenapa tidak melihat dua album yang telah berada di tanganku. Jangan-jangan dia gadis Indonesia. Walinya tahu aku mengaji pada Syaikh Utsman dan minta agar menjodohkan keponakannya denganku. Tapi, siapa gadis Indonesia yang kecantikannya layak dipuji oleh isteri Syaikh Utsman dan dia memiliki wali di sini?

Seingatku mahasiswi Indonesia yang disertai kerabatnya hanya ada tiga orang. Raihana disertai kakak kandungnya. Fauzia disertai adiknya. Dan Nurul, ia disertai pamannya, tapi paman jauh. Tiba-tiba hatiku berdesir, jantungku mau copot. Yang paling cantik memang Nurul. Tapi aku merasa itu tidak akan terjadi. Tidak mungkin. Dia adalah puteri seorang kiai besar, pengasuh pesantren besar di Jawa Timur. Dan seorang kiai biasanya telah memilih besan sejak anaknya masih belum bisa berjalan. Tapi kenapa Ustadz Jalal memintaku datang? Aku semakin didera badai kegelisahan yang dahsyat. Aku mengumpat diriku sendiri. Seandainya aku melihat foto dalam album aku tidak akan dirajam penasaran yang menggila ini. Aku berusaha mengurangi rasa gelisah dan penasaran dengan bersujud dan menangis kepada Tuhan. Dalam sujud aku berdoa sebagaimana doa nabi hamba pilihan Allah dalam Al-Qur’an,

“Rabbana hab lana min azwaajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun wal’alna lil muttaqiina imaama! Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa!”[88]

 

15. Pertemuan

Aku sampai di masjid Abu Bakar Shiddiq tepat saat azan Ashar berkumandang. Seluruh tubuhku bergetar tidak seperti biasanya. Keringat dinginku keluar. Aku tidak tahu shalatku kali ini khusyuk apa tidak. Yang jelas mataku basah. Dalam sujud aku menangis memohon kepada Allah agar diberi umur yang penuh berkah, pertemuan dengan calon belahan jiwa yang penuh berkah, akad nikah yang penuh berkah, malam zafaf yang penuh berkah, dan masa depan yang penuh berkah. Selesai shalat aku masih duduk menitikkan air mata. Aku meyakinkan diriku bahwa aku tidak sedang bermimpi. Sebentar lagi aku akan bertemu dengan dia. Dia yang aku belum tahu namanya dan belum tahu wajahnya seperti apa. Dia yang telah lama kurindu. Aku minta kekuatan kepada Allah.

Syaikh Utsman menyentuh pundakku beliau tersenyum. Beliau mengajakku ikut serta dalam mobil beliau. Dari masjid Abu Bakar sampai ke rumah beliau memang agak jauh. Syaikh Utsman memiliki seorang sopir bernama Faruq. Selama dalam perjalanan Syaikh Utsman bercerita masa mudanya dulu. Beliau dan Ummu Fathi asalnya juga tidak saling kenal. Bertemu dalam majlis khitbah. Dan cinta itu hadir begitu saja setelah akad nikah, begitu kuatnya.

“Anakku, kau pasti panas dingin sekarang. Iya ‘kan? Aku dulu juga merasakan hal yang sama. Dalam perjalanan bersama keluarga ke rumah Ummu Fathi, untuk bertemu pertama kalinya sekaligus khitbah hatiku berdesir, jantungku berdegup, keringat dingin keluar. Tapi itulah saat-saat yang tak terlupakan. Dan ketika kami bertemu. Ummu Fathi keluar mengeluarkan minuman dengan tangan bergetar. Mata kami sekilas bertemu dan hati diliputi rasa malu yang luar biasa. Itu adalah kenikmatan luar biasa. Kenikmatan istimewa yang jarang dirasakan anak muda sekarang, kecuali yang benar-benar menjaga diri dan menjaga hubungan lelaki perempuan dalam adab-adab syar’i. Kulihat mukamu pias, kau pasti sedang panas dingin. Anakku, tunggulah nanti sebentar lagi ketika kau sudah duduk di ruang tamu dan gadis itu masuk bersama walinya kau akan merasakan panas dingin yang luar biasa. Panas dingin yang belum pernah kau rasakan. Apalagi kala kau dan dia nanti sesekali mencuri pandang. Suasana hatimu tidak akan bisa kau lupakan seumur hidupmu. Inilah keindahan Islam. Dalam Islam hubungan lelaki perempuan disucikan sesuci-sucinya namun tanpa mengurangi keindahan romantisnya.” Kata-kata Syaikh Utsman menambah tubuhku semakin dingin. Syaikh Utsman seperti masih muda. Beliau juga menasihatiku agar majelis pertemuan nanti benar-benar dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengenalkan diri dan mengenal gadis itu. Syaikh Utsman dan wali gadis itu hanya akan menjadi pembawa acara.

* * *

Memasuki ruang tamu Syaikh Utsman kakiku seperti lumpuh. Aku hampir tidak bisa mengangkat kakiku. Tubuhku gemetar. Ruang tamu yang penuh dengan kitab-kitab klasik ini akan menjadi saksi penting dalam sejarah hidupku. Syaikh Utsman mempersilakan aku duduk di sofa busa yang menghadap ke barat. Di sebelah selatan ada sofa panjang menghadap utara untuk dua orang. Di sebelah barat ada sofa menghadap ke timur untuk satu orang. Di sebelah utara ada dua sofa menghadap ke selatan. Pintu ada dekat tempat aku duduk.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.