Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

Syaikh Utsman dan teman-teman menyambutku dengan penuh kehangatan. Kami mempraktekkan qiraah Imam Warasy dengan membaca surat Al Mujaadilah, Al Hasyr, Al Mumtahanah, Ash Shaf dan Al Jumu’ah. Selesai mengaji Syaikh Utsman mengajakku masuk ke kamar beliau yang khusus disedikan oleh takmir masjid. Beliau ingin berbicara masalah khusus.

“Anakku, kau sudah sehat betul?” tanya beliau lembut.

“Alhamdulillah, Syaikh,” jawabku dengan menundukkan kepala, aku tidak berani memandang beliau. Segan.

“Alhamdulillah. Terus bagaimana dengan kuliahmu?”

“Alhamdulillah. Judul tesis magister sudah diterima Syaikh. Sekarang sedang mengumpulkan bahan lebih lengkap untuk menulis.”

“Alhamdulillah. Kau menulis tentang apa?”

“Metodologi Tafsir Syaikh Badiuz Zaman Said An-Nursi.”

“Bagus sekali. Said An-Nursi memang ulama luar biasa yang harus dikaji kelebihan yang diberikan Allah kepadanya. Lantas siapa pembimbingmu?”

“Prof. Dr. Abdul Ghafur Ja’far.”

“Yang tinggal di dekat masjid Rab’ah El-Adawea, Nasr City itu?”

“Benar Syaikh.”

“Alhamdulillah. Kau insya Allah akan mendapat bimbingan dan kemudahan dari beliau. Beliau adalah salah seorang muridku angkatan pertama. Beliau mengambil sanad dan ijazah qiraah sab’ah dariku. Nanti akan aku telpon beliau agar memberikan bimbingan terbaik kepadamu. Dan agar kamu benarbenar menjadi pembela dan penyebar agama Allah di tanah airmu kelak.” Suara Syaikh Utsman bernada optimis dan bahagia. Diam-diam aku sangat kagum pada beliau yang sangat memperhatikan semua muridnya. Beliau memang tidak mau mengambil murid terlalu banyak. Tapi yang sedikit itu benar-benar beliau curahi perhatian yang luar biasa.

“Anakku. Aku mau bertanya masalah penting padamu. Apakah kau mau menikah?”

Pertanyaan Syaikh Utsman itu bagaikan guntur yang menyambar gendang telingaku. Aku kaget. Hatiku bergetar hebat. Jika yang bertanya orang semacam Rudi, Hamdi, dan Saiful aku akan menjawabnya dengan santai, bahkan aku bisa menjawabnya dengan guyon. Tapi ini yang bertanya adalah ulama terkemuka, gurunya para guru besar di Mesir.

“Maksud Syaikh bagaimana?”

“Apakah kau mau menikah dalam waktu dekat ini. Kalau mau, kebetulan ada orang shalih datang kepadaku. Ia memiliki keponakan yang shalihah yang baik agamanya dan minta dicarikan pasangan yang tepat untuk keponakannnya itu. Aku melihat kau adalah pasangan yang tepat untuknya.”

Keringat dinginku keluar.

“Tapi aku mahasiswa miskin Syaikh, tidak punya biaya.”

“Baginda nabi dulu menikah dalam keadaan miskin. Sayyidina Ali bin Abi Thalib juga menikah dalam keadaan miskin. Aku sendiri menikah dalam keadaan miskin. Begini Anakku, kau pikirkanlah dengan matang. Lakukanlah shalat istikharah. Gadis shalihah ini benar-benar shalihah, dia mencari pemuda yang shalih bukan pemuda yang kaya. Sekarang pulanglah, pikirlah dengan matang. Jika kau mantap dengan jawabanmu siap menikah atau tidak secepatnya datanglah kau menemuiku. Jika kau mantap, maka akan aku pertemukan kau dengan walinya dahulu, jika tidak, maka aku akan mencarikan yang lain.” Kata-kata Syaikh Utsman yang berwibawa itu merasuk dan mendesir hebat dalam jiwaku.

Sampai di rumah hatiku masih terasa bergetar atas pertanyaan sakral yang diajukan Syaikh Utsman. Jiwaku masih terasa berdesir. Apa yang beliau tawarkan bukan sembarang tawaran. Yang beliau tawarkan adalah sebaik-baik rizki bagi seorang pemuda. Adakah rizki lebih agung dari seorang gadis shalihah yang jika dipandang menyejukkan jiwa bagi seorang pemuda? Aku belum bisa mempercayai apa yang aku alami hari ini. Baru saja target dan peta hidup dibuat, tawaran untuk menikah datang sedemikian cepat. Siap. Atau tidak. Aku harus minta penerang dari Allah Swt.

 

14. Badai Kegelisahan

Tiga hari berturut-turut aku shalat istikharah. Yang terbayang adalah wajah ibu yang semakin menua. Sudah tujuh tahun lebih aku tidak berjumpa dengannya. Oh ibu, jika engkau adalah matahari, aku tak ingin datang malam hari. Jika engkau adalah embun, aku ingin selalu pagi hari. Ibu, durhakalah aku, jika ditelapak kakimu tidak aku temui sorga itu.[87]

Maka kuputuskan untuk minta persetujuan ibu. Ibu adalah segalanya bagiku. Jika beliau meridhai maka aku akan melangkah maju. Jika tidak maka aku pun tidak.

Aku telpon ke Indonesia. Ayah dan ibu tinggal jauh di desa. Tak ada telpon di sana. Aku menelpon ke rumah Pak Zainuri, mertua paman yang penilik sekolah dan tinggal di kota kecamatan. Rumah paman tak jauh dari beliau. Selama ini, jika aku ingin menghubungi ayah dan ibu caranya memang lewat Pak Zainuri dulu. Pak Zainuri akan menghubungi paman dan paman akan menghubungi ayah ibu. Kalau aku mengirim surat pun aku lebih suka mengalamatkannya ke rumah Pak Zainuri lebih cepat sampainya. Sebab jika dialamatkan ke desa, suratku bisa bertapa dulu di balai desa, atau di rumah Pak RW dalam waktu tak tentu. Masalah transportasi dan komunikasi global memang agak susah jika hidup di desa.

Kepada paman aku jelaskan semuanya. Siapa Syaikh Utsman dan apa yang beliau tawarkan kepada diriku. Paman adalah orang yang wawasannya luas, ia guru SMP teladan se kabupaten. Paman banyak bertanya tentang seandainya benar-benar menikah dengan muslimah yang bukan dari Indonesia. Aku jelaskan, jika dia gadis yang shalihah semuanya akan mudah. Aku jelaskan pada paman, tidak semua orang mendapatkan tawaran sedemikian terhormatnya dari Syaikh Utsman. Di Indonesia, kalau mendapatkan tawaran untuk menikah dengan anak seorang kiai mushalla saja dianggap suatu keberuntungan yang luar biasa. Juga kujelaskan hasil istikharahku. Aku minta pada paman agar mengajak musyawarah ayah dan ibu. Disamping itu aku juga minta ayah ibu juga melakukan shalat istikharah. Apa pun hasilnya itulah keputusan yang akan aku ambil. Dua hari lagi pada jam yang sama aku akan menelpon menanyakan hasilnya. Dan aku ingin langsung mendengar dari lisan ibu.

Dua hari kemudian. Pada waktu yang dijanjikan aku menelpon ke tanah air. Aku mendengar suara ibu,

“Jika isterimu nanti mau diajak hidup di Indonesia, tidak terlalu jauh dari ibu, maka menikahlah dan ibu merestui, ibu yakin akan penuh berkah. Tapi jika tidak bisa dibawa ke Indonesia tidak usah, cari saja gadis shalihah yang dari Indonesia!”

Air mataku meleleh mendengar keputusan ibu. Sebuah keputusan yang sangat bijaksana. Aku memang tidak mungkin hidup dan berjuang selain di tanah air tercinta. Hari itu juga aku menemui Syaikh Utsman dan memberitahukan keputusanku. Beliau berpesan agar hari berikutnya datang ke tempat beliau lagi, untuk mengetahui kabar selanjutnya. Hari berikutnya aku datang. Syaikh Utsman menyambutku dengan senyum dan pelukan penuh kehangatan. Aku seperti seorang cucu yang beliau sayangi.

“Semoga gadis shalihah ini menjadi rizkimu di dunia dan di akhirat. Dia siap kau bawa berjuang di mana saja dan walinya menyetujuinya. Ini ada dua album foto dia, kau bawalah pulang! Kau lihat-lihat. Kau istikharah lagi. Jika kau mantap kau akan aku pertemukan dengan gadis shalihah ini dan walinya.”

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.