Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

Setengah tujuh telpon berdering. Dari Nurul. Ia minta padaku agar ke rumah Ustadz Jalal, katanya Ustadz Jalal ingin minta tolong dan membicarakan sesuatu yang penting padaku. Kukatakan minggu ini aku tidak bisa. Ia bilang tidak apa-apa, tapi minta diusahakan kalau ada kesempatan langsung ke sana. Ustadz Jalal masih ada hubungan kerabat dengan Nurul, meskipun agak jauh. Mereka bertemu di ayah kakek alias buyut. Sudah lama aku tidak bertemu Ustadz Jalal. Beliau dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga yang mengambil S3 di Sudan, dan selama menulis disertasi doktoralnya beliau tinggal di Kairo bersama isteri dan ketiga anaknya. Aku akrab dengan beliau dimulai sejak kami umrah bersama dua tahun yang lalu. Kami mengarungi laut merah untuk mencapai Jeddah dengan kapal Wadi Nile. Saat itu beliau baru setengah tahun di Cairo. Anak beliau baru dua. Anaknya yang bungsu lahir di Cairo tujuh bulan yang lalu. Apa yang beliau inginkan dariku? Apakah beliau akan meminta tolong untuk ikut mentakhrij hadits lagi? Aku tak tahu pasti. Jawabnya adalah ketika aku bertemu dengannya. Sebenarnya yang membuatku sedikit heran, kenapa Ustadz Jalal tidak langsung menelponku, kenapa berputar lewat Nurul. Benar, rumahnya tidak ada telponnya, tapi dia tentunya bisa menelpon lewat Minatel yang tersebar di setiap sudut kota Cairo. Keadaan dan jalan berpikir seseorang terkadang memang susah dimengerti.

Usai mengangkat telpon aku tidak meneruskan pekerjaanku sebelumnya, yaitu membaca. Tapi aku merasa perlu meninjau kembali planning bulan ini. Utamanya adalah minggu yang sedang aku jalani ini. Aku melihat jadwal keluar rumah. Ada lima kegiatan. Kurasa harus aku pangkas semua. Aku harus istirahat dan mengejar terjemahan. Pengajian ibu-ibu KBRI hari Selasa. Pembanding dalam diskusi yang diadakan FORDIAN, Forum Studi Ilmu Al-Qur’an, di Buuts, hari Rabu pagi. Pergi ke warnet. Dan rapat Dewan Asaatidz Pesantren Virtual, di mahattah Shurthah, Nasr City, Kamis malam Jum’at. Semuanya harus aku batalkan. Yang perlu pengganti harus aku carikan ganti. Bahkan untuk talaqqi pada Syaikh Utsman hari Rabu aku ingin izin, sekali ini. Aku benar-benar ingin di rumah minggu ini, menghindari perjalanan panjang yang membuat ubun-ubun terasa mendidih.

Sore itu juga aku telpon takmir masjid Indonesia yang mengurusi pengajian ibu-ibu KBRI agar mengganti jadwalku dan memundurkan satu bulan ke belakang. Pada koordinator FORDIAN aku minta diganti, kutawarkan sebuah nama. Pada Gus Ochie El-Anwari sang penggagas rapat Dewan Asaatidz aku minta izin, aku sampaikan beberapa ide dan pokok pikiran yang mengganjal di kepala. Setelah semua beres aku merasa lega. Langsung kusambung dengan menulis jawaban atas pertanyaan Alicia seputar Islam dan Perempuan. Aku hanya istirahat untuk shalat, makan malam, dan minum air putih. Tekadku bulat harus tuntas malam ini. Tak ada bedanya dengan membuat karya ilmiah. Jawaban dengan bahasa Inggris itu selesai juga. Tepat pukul tiga malam. Dengan bahasa Inggris. Setebal empat puluh satu halaman spasi satu Microsoft Word, Times New Roman, Font 12. Seandainya tidak memakai bahasa Inggris kurasa pukul satu malam sudah selesai. Beberapa kali aku harus membuka kamus Al Maurid untuk sebuah kosa kata yang aku kurang yakin ketepatannya.

Sejak itu aku tidak keluar rumah kecuali untuk shalat berjamaah. Waktuku habis di dalam kamar, di depan komputer. Aktifitasku adalah menerjemah, menyelesaikan proposal, sesekali makan, ke kamar mandi dan tidur. Hari Selasa sore Maria memberi tahu buku Prof. Dr. Abdul Wadud Shalabi telah selesai ia terjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Hanya saja ia tidak berani menerjemahkan hadits dan ayat suci Al-Qur’an takut salah. Maria memberikan disket berisi terjemahannya. Kekurangannya kutambal. Jawabanku dan hasil terjemahan Maria langsung aku print dan ketika shalat shubuh aku berikan kepada Syaikh Ahmad untuk diperiksa. Kebetulan bahasa Inggris beliau bagus tidak seperti Imam masjid lainnya. Beliau bahkan pernah diutus oleh Al Azhar ke Australia untuk menjadi Imam di masjid Malik Faishal yang terletak di Common Wealth Street, Surry Hills, Sidney selama satu tahun. Aku jelaskan pada beliau pertemuanku dengan Miss. Alicia dari Amerika dan kapan jawaban itu harus aku serahkan. Aku ingin beliau mengoreksi dengan seksama. Beliau sangat senang dengan apa yang aku lakukan. Beliau menjanjikan malam Jum’at ba’da shalat Isya bisa aku ambil sehingga bisa diedit lagi dan diprint ulang.

Kekejaman pada diri sendiri untuk bekerja keras menampakkan hasilnya. Hari Jum’at terjemahan selesai. Tinggal menunggu diedit saja. Proposal tesis juga selesai, siap untuk diajukan ke tim penilai. Jika layak nanti pihak fakultas akan mencarikan promotor yang sesuai. Dan jawaban untuk semua pertanyaan Alicia yang telah dikoreksi dan diberi tambahan Syaikh Ahmad sudah aku print, aku fotocopy dan aku jilid jadi empat. Untuk Alicia, untuk Aisha, untuk Maria, dan untuk arsip pribadiku. Aku menatap peta hidup bulan ini. Aku tersenyum penuh rasa syukur. Kukatakan pada diriku sendiri, “Man jadda wajad!”[81]

Aku merasa bersyukur kepada Allah yang mengilhamkan untuk merubah strategi perangku minggu ini. Memang terkadang kita harus kejam pada diri sendiri. Dan sedikit tegas pada orang lain. Aktifitas yang penting tetapi tidak terlalu penting bisa dibuang atau di-pending.

* * *

Ketika aku mengambil naskah yang dikoreksi Syaikh Ahmad, beliau bercerita sedikit tentang Noura. Gadis innocent itu senang di Tafahna. Kebetulan satu hari sebelumnya, Ummu Aiman, isteri Syaikh Ahmad menjenguk ke sana. Syaikh Ahmad sedang melacak sebenarnya siapa Si Muka Dingin Bahadur itu. Apakah benar ayahnya atau bukan? Syaikh Ahmad mendapatkan informasi Noura dilahirkan di klinik bersalin Heliopolis. Bagaimana sejarahnya Noura bisa terlahir di klinik elite di kawasan elite itu? Syaikh Ahmad sedang menyelidikinya dengan bantuan Ridha Shahata, sepupunya yang menjadi staf intelijen Dewan Keamanan Negara atau yang disebut “Mabahits Amn Daulah”. Aku yakin tak lama lagi Noura kembali hidupnya yang penuh ketenteraman. Sebelum aku pulang beliau menyerahkan sepucuk surat kepadaku, beliau bilang, “Surat ini yang membawa Ummu Aiman, dari Noura, katanya ucapan terima kasih padamu!”

Inilah untuk pertama kalinya aku mendapatkan surat dari orang Mesir. Asli. Dari gadis Mesir lagi. Meskipun cuma ucapan terima kasih. Aku penasaran ingin tahu kata-kata apa yang ditulis oleh gadis innocent itu. Seperti apa tulisannya. Ingin rasanya kubuka seketika itu, tapi pada Syaikh Ahmad aku merasa malu. Kumasukkan surat itu begitu saja ke dalam saku.

 

10. Sepucuk Surat Cinta

Ini malam Sabtu. Besok pagi aku harus pergi. Memasukkan proposal tesis ke kampus. Menemui Alicia dan Aisha di National Library. Dan mengirimkan naskah terjemahan ke redaksi sebuah penerbit di Jakarta melalui email. Perjalanan yang agak melelahkan kelihatannya. Semua telah siap, kecuali naskah terjemahan. Belum selesai di edit. Aku ingin besok pagi semuanya berjalan seperti rencana. Sekali melakukan perjalanan banyak yang diselesaikan. Malam ini mau tidak mau aku harus sedikit keras pada diriku sendiri. Aku harus kerja lembut mengedit hasil terjemahanku sampai benar-benar matang.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.