Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

Dalam sejarah pemerintahan Mesir, pada tanggal 10 Mei 1911 ada laporan kolonial Inggris ke London yang menjelaskan hasil sensus di Mesir. Dari sensus penduduk waktu itu jumlah umat Islam 92 persen, umat kristen koptik hanya 2 persen, selebihnya Yahudi dan lain sebagainya. Pada waktu itu jumlah pegawai yang bekerja di kementerian seluruhnya 17.569 orang. Dengan komposisi 9.514 orang dari kaum muslimin yang berarti 54,69 persen, dan selebihnya dari kaum koptik, yaitu 8.055 orang dan berarti, 45,31 persen. Bagaimana mungkin jumlah umat koptik yang cuma 2 persen itu mendapatkan jatah 45,31 persen di departemen-departemen kementerian. Dan umat Islam mesir tidak pernah mempesoalkan komposisi yang sangat menganakemaskan umat kristen koptik ini. Apakah tidak wajar jika para pendeta koptik ebih dahulu bersuara lantang menolak tuduhan Amerika sebelum Al Azhar bersuara?

Ulama-ulama besar dan terkemuka Mesir tidak pernah menyapa umat kristen koptik sebagai orang lain. Mereka dianggap dan disapa sebagai ‘ikhwan’ sebagai saudara. Saudara setanah air, sekampung halaman, sepermainan waktu kecil, bukan saudara dalam keyakinan dan keimanan. Syaikh Yusuf Qaradhawi menyapa umat koptik dengan ‘ikhwanuna al Aqbath’, saudara-saudara kita umat koptik. Sebuah sapaan yang telah diajarkan oleh Al-Qur’an. Al-Qur’an mengakui adanya persaudaraan di luar keimanan dan keyakinan. Dalam sejarah nabi-nabi, kaum nabi Nuh adalah kaum yang mendustakan para rasul. Mereka tidak mau seiman dengan nabi Nuh. Meskipun demikian, Al-Qur’an menyebut Nuh adalah saudara mereka. Tertera dalam surat Asy Syuara ayat 105 dan 106: ‘Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata pada mereka, ‘Mengapa kamu tidak bertakwa?’ Apakah ajaran yang indah dan sangat humanis seperti ini masih juga dianggap tidak adil? Kalau tidak adil juga maka seperti apakah keadilan itu? Apakah seperti ajaran Yahudi yang menganggap orang yang bukan Yahudi adalah budak mereka. Atau ajaran yang diyakini ratu Isabela yang memancung jutaan umat Islam di Spayol karena tidak mau mengikuti keyakinannya?

Aku merasa isi buku Prof. Dr. Abdul Wadud Shalabi harus dibaca masyarakat Amerika, Eropa, dan belahan dunia lainnya yang masih sering tidak bisa memahami ruh ajaran Islam. Termasuk juga masyarakat Indonesia. Tapi aku bimbang, apakah aku punya waktu yang cukup untuk menerjemahkan buku itu. Kontrak terjemahan harus segera aku tuntaskan. Jakarta sedang menunggu naskah yang aku kerjakan. Proposal tesis juga harus segera kuajukan ke universitas. Dan kondisi kesehatan yang sedikit terganggu.

* * *

Metro yang kutumpangi sampai di Hadayek Helwan pukul dua. Panas sengatan matahari semakin kurang ajar dan kurang ajar. Aku keluar mahattah dengan memakai langkah cepat. Di perempatan jalan dekat rental dan toko peralatan komputer Pyramid Com, aku mendengar seseorang memanggil namaku. Suara yang tidak terlalu asing. Aku menengok ke kanan, ke arah Pyramid Com. Seorang gadis Mesir sambil memegang payung berjalan cepat ke arahku. Aku terus saja berjalan tak begitu mempedulikan dirinya. Sebab udara panas menyengat muka.

“Hai Fahri, tunggu, baru pulang ya? Kepanasan? Ini pakai saja payungku nanti kau sakit lagi?”

Gadis Mesir berpipi lesung kalau tersenyum itu telah berhasil mengejar langkahku. Ia berjalan sejajar denganku dan menawarkan payungnya padaku.

“Sudahlah Maria, kau jangan berlaku begitu!” sahutku sambil mempercepat langkah. Maria terus berusaha mengimbangi kecepatan langkahku. Ia berusaha memayungi diriku dari sengatan matahari. Beberapa orang Mesir yang berpapasan dengan kami melihat kami dengan pandangan heran. Maria melakukan sesuatu yang tidak biasanya dilakukan gadis Mesir. Juga tidak akan pernah ada lelaki di Mesir memakai payung untuk melindungi dari sengatan matahari.

“Maria, please, hormatilah aku. Jangan bersikap seperti itu!”

Maria menarik payungnya dan menggunakan untuk melindungi dirinya. Aku heran sendiri dengan perlakuan puteri Tuan Boutros ini padaku. Mamanya bilang Maria tidak suka didatangi teman-teman lelakinya. Juga tidak suka pergi atau kencan dengan mereka. Tidak suka menerima telpon dari mereka. Tidak bisa mesra katanya, tapi kenapa dia bersikap sedemikian perhatian padaku. Aku merasa ia seolah-olah menunggu kepulanganku di jalan yang pasti kulewati.

“Janji sama siapa Fahri, kalau aku boleh tahu?” tanyanya. Aku mempercepat langkah. Jarak apartemen dan mahattah metro sekitar seratus dua puluh lima meter.

“Sama teman. Kau panas-panas begini ke Pyramid Com ada apa? Kau ‘kan paling malas keluar di tengah panas yang menggila seperti ini?” tanyaku tanpa memandang kepadanya. Itu tidak mungkin kulakukan kecuali terpaksa misalnya ketika berjumpa begitu saja. Atau reflek menengok karena dia memanggil namaku.

“Terpaksa. Tinta printku habis. Padahal aku harus ngeprint banyak saat ini. Sialnya stok Pyramid Com juga habis. Aku mau ke Helwan malas sekali?” jawabnya dengan nada kecewa.

“Kebetulan tintaku masih penuh. Baru beli. Pakai saja milikku.”

“Terima kasih Fahri. Kebetulan sekali kalau begitu. Aku perlu sekali. Kalau aku tahu itu aku tidak akan capek-capek begini.”

“Kelihatannya kau sangat sibuk minggu dan banyak tugas minggu ini, Maria?”

“Iya, sejak empat hari kemarin aku sibuk mengedit kumpulan tulisanku yang tersebar di beberapa media selama satu tahun ini. Hari ini juga harus aku print. Sebab habis maghrib nanti akan diambil Wafa untuk dimintakan kata pengantar pada Anis Mansour, lalu diterbitkan. Setelah itu sampai kuliah aktif kembali aku kosong. Ada apa kau tanya seperti itu. Ada yang bisa aku bantu?”

“Ya. Kalau kau berkenan. Aku perlu bantuanmu.”

“Apa itu? Kalau aku mampu, dengan senang hati.”

Aku lalu menjelaskan pertemuanku dengan Alicia dan segala pertanyaannya. Aku menjelaskan keinginanku menyampaikan isi buku yang ditulis Prof. Dr. Abdul Wadud Shalabi. Tapi kelihatannya aku tidak punya waktu yang cukup. Buku itu setebal 143 halaman. Dan Maria bahasa Inggrisnya sangat bagus. Selama di sekolah menengah ia kursus di British Council, dan pernah terpilih pertukaran pelajar ke Skotlandia selama setengah tahun.

“Kapan dead linenya?”

“Jawaban harus aku sampaikan pada Alicia hari Sabtu depan. Kalau bisa malam Jum’at sudah selesai diterjemahkan sehingga aku juga ada kesempatan membacanya?”

“Baiklah. Nanti berikan buku itu padaku. Aku berjanji Kamis pagi selesai.”

“Thank’s, Maria.”

“Forget it.”

Tak terasa kami telah sampai di halaman apartemen. Aku mempercepat langkah. Aku tidak mau naik tangga di belakang Maria. Aku harus di depan, aku teringat kisah nabi Musa dan dua gadis muda pencari air. Nabi Musa tidak mau berjalan di belakang keduanya demi menjaga pandangan dan menjaga kebersihan jiwa.

Sampai di dalam flat, Saiful menyambutku dengan segelas ashir mangga. Aku langsung meminumnya. Rasa segar menjalar ke seluruh tubuh. Aku langsung masuk kamar dan menyalakan kipas angin. Maria mengirim sms agar tinta dan buku yang hendak diterjemah segera kusiapkan. Lima menit lagi ia akan menurunkan keranjang. Aku langsung mencari buku itu di rak. Ketemu. Jendela kubuka. Angin panas masuk serta merta. Maria telah menunggu dengan keranjang kecilnya. Tinta dan buku kumasukkan ke dalamnya. Dan ia mengangkatnya. Aku langsung shalat dan istirahat sampai ashar tiba.

* * *

Mishbah pulang dari Nasr City jam enam sore. Ketika aku sedang asyik membaca beberapa buku untuk menjawab pertanyaan Alicia. Ia membawa pesan dari Nurul yang secara tidak sengaja bertemu di depan Wisma agar aku menelpon dia sebelum maghrib tiba. Kembali Rudi menggodaku, “Tidak salah lagi. Pasti ada sesuatu. She is the true coise!” Aku beristighfar dalam hati. Semoga Allah melindungi dari godaan setan yang terkutuk yang menyesatkan manusia dengan berbagai macam cara. Dalam hati aku menegaskan, aku tidak akan menelponnya.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.