Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

Kepalaku sebenarnya semakin nyut-nyut tapi aku selalu tidak bisa membiarkan kecewa orang yang bertanya padaku.

“Maaf, setiap orang berbeda dalam memandang hidup ini dan berbeda caranya dalam menempuh hidup ini. Peta masa depan itu saya buat terus terang saja berangkat dari semangat spiritual ayat suci Al-Qur’an yang saya yakini. Dalam surat Ar Ra’ad ayat sebelas Allah berfirman, Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya. Jadi nasib saya, masa depan saya, mau jadi apa saya, sayalah yang menentukan. Sukses dan gagalnya saya, sayalah yang menciptakan. Saya sendirilah yang mengaristeki apa yang akan saya raih dalam hidup ini.”

Belum selesai aku bicara Maria menyela, “Kalau begitu di mana takdir Tuhan?”

“Takdir Tuhan ada di ujung usaha manusia. Tuhan Mahaadil, Dia akan memberikan sesuatu kepada umat-Nya sesuai dengan kadar usaha dan ikhtiarnya. Dan agar saya tidak tersesat atau melangkah tidak tentu arah dalam berikhtiar dan berusaha maka saya membuat peta masa depan saya. Saya suka dengan kata-kata bertenaga Thomas Carlyle: ‘Seseorang dengan tujuan yang jelas akan membuat kemajuan walaupun melewati jalan yang sulit. Seseorang yang tanpa tujuan, tidak akan membuat kemajuan walaupun ia berada di jalan yang mulus!’ Peta hidup ini saya buat untuk mempertegas arah tujuan hidupku sepuluh tahun ke depan. Ini bagian dari usaha dan ikhtiar dan setelah itu semuanya saya serahkan sepenuhnya kepada Tuhan.”

Maria mengangguk-anggukkan kepala.

“Apa kubilang, Fahri seorang visioner yang tegas. Tidak seperti dirimu Maria, hidup manja tanpa visi. Kau ini sudah berada di jalan yang mulus. Dikaruniai otak yang cerdas, hidup berkecukupan, disayang keluarga. Tapi kau tidak akan membuat kemajuan tanpa visi yang jelas.” sahut Madame Nahed.

Aku tidak enak mendengarnya. Aku tidak tahu seperti apa wajah Maria, mungkin memerah karena malu mendapat teguran dari ibunya yang ceplas-ceplos seperti itu. Aku memejamkan kepala merasakan rasa nyeri di dalam tempurung kepalaku.

Tuan Boutros menanyakan kemana Rudi dan Mishbah, keduanya tidak kelihatan. Hamdi menjelaskan dengan rinci. Pembicaraan lalu beralih kepada Hamdi dan Saiful. Aku mendengarkan dengan mata terpejam. Tangan Saiful masih memijit kakiku. Tak lama kemudian Yousef datang membawa obat dan satu botol ashir mangga. Madame Nahed memberikan petunjuk cara meminum obatnya. Berapa hari sekali. Dia berpesan agar aku istirahat dulu sampai pulih kembali. Mereka lalu pamitan. Saat mau pergi Maria berkata,

“Syukran Fahri, aku mendapatkan ilmu yang mahal sekali. Benar kata pepatah dekat dengan penjual minyak akan mendapatkan wanginya.”

Setelah mereka kembali ke flatnya, aku makan ruz billaban pemberian Maria. Enak. Lalu minum obat dan bersiap tidur. Aku telah meminta Hamdi menyetel beker jam tiga. Aku bersyukur memiliki teman-teman yang baik dan tetangga yang baik. Saiful memijat-mijat diriku sampai aku terlelap. Dalam tidur aku mendengar Maria menangis. Air matanya membasahi kakiku. Jam tiga aku terbangun. Heran dengan mimpiku. Sebelum tidur aku sudah baca shalawat dan doa. Aku tak tahu mimpi itu tafsirnya apa. Kalau Ibnu Sirin masih hidup tentu aku tanyakan padanya. Aku beristighfar berkali-kali memohon ampunan kepada Allah jika guyonanku pada Madame Nahed tadi tidak semestinya aku lakukan. Janganjangan menyakiti hati Maria. Aku bangkit. Kepalaku terasa lebih ringan. Aku tadi memang kepanasan dan kelelahan. Ya Allah, kulihat Saiful tidur di karpet. Ia begitu setia menunggui aku. Ana uhibbuka fillah ya Akhi![76] Aku harus shalat Isya. Malam terasa sunyi. Aku teringat ayah bunda di kampung sana, di tanah air tercinta. Terbayang mata bening bunda.

selalu saja kurindu

abad-abad terus berlalu

berjuta kali berganti baju

nun jauh di sana mata bening menatapku haru

penuh rindu

mata bundaku

yang selalu kurindu

Dalam sujud kumenangis kepada Tuhan, memohonkan rahmat kesejahteraan tiada berpenghabisan untuk bunda, bunda, bunda dan ayahanda tercinta. Usai shalat Isya dan Witir aku tidur lagi. Aku bermimpi lagi. Bertemu ayah ibu, berpelukan dan menangis haru.

* * *

Pagi hari aku merasa segar kembali. Aku melihat jadwal. Ada janji di National Library. Kalau tak ada janji sebenarnya aku ingin istirahat saja. Kasihan tubuh ini, kepanasan setiap hari. Tapi janji harus ditepati. Meskipun harus merangkak akan aku jalani. Janjinya jam sebelas. Aku harus berangkat jam sepuluh masih ada tiga jam. Lumayan untuk mengejar terjemahan.

Pukul sepuluh aku berangkat. Matahari sudah mulai menyengat. Sampai di halaman Maria memanggil namaku dari jendelanya. Ia mengingatkan agar aku tidak pergi. Kukatakan padanya aku ada janji. Aku harus menepatinya meskipun untuk itu aku harus mati. Untung aku dapat tempat duduk. Lebih baik daripada berdiri. Di tengah perjalanan seorang pemuda Mesir memakai jubah lusuh naik. Ia membawa karung. Entah apa isinya. Sampai di dalam metro membuka karungnya. Mengeluarkan boneka panda. Ia menawarkan pada penumpang barang dagangannya. Boneka dan mainan anak-anak. Ia menawarkan dari ujung ke ujung. Ia bilang harga promosi jauh lebih murah dari yang di toko resmi. Tak ada yang beli. Ia mendekatiku dan menawatkan boneka panda itu padaku. Kukatakan padanya aku belum punya anak. Penjual mainan itu menjawab,

“Belilah, kudoakan kau mendapatkan isteri yang shalihah dan cantik seperti bidadari dan memiliki anak yang shalih shalihah, juga kudoakan umurmu berkah rizkimu melimpah sehingga kau dan anak cucumu tidak akan perlu berjualan di jalan seperti diriku. Belilah untuk penyemangat hidupku!”

Siapa yang tidak terenyuh mendengar kata-kata penuh muatan doa seperti itu. Hatiku luluh. Aku akhirnya membeli boneka panda dan pistol air. Cuma sepuluh pound. Boneka enam pound dan pistol airnya empat pound. Pemuda itu tampak berbinar matanya, ia mengucapkan terima kasih. Setelah aku membeli ada seorang ibu setengah baya tertarik dan membeli.

Aku memandangi boneka panda warna coklat dan putih di tanganku. Boneka yang cantik. Kepada siapa akan kuberikan? Aku tersenyum sendiri. Biar nanti kugantung di atas tempat tidur. Pemuda itu masih di dalam metro ia belum turun. Mungkin turun di mahatah depan. Keringatnya bercucuran. Aku teringat masa kecilku ketika aku masih SD. Kami keluarga susah. Kakek hanya mewariskan sepetak sawah, kira-kira luasnya setengah bahu. Dibagi dua dengan adil untuk ayah dan paman. Ayah tidak sekolah, dia hanya sampai kelas tiga sekolah SR. Hanya bisa baca dan menulis saja. Demikian juga dengan ibu. Lain dengan paman. Dia disekolahkan oleh kakek dengan bantuan ayah sampai SPG. Dia jadi guru. Karena paman sudah disekolahkan maka rumah kakek diberikan kepada ayah. Selama paman sekolah ayahlah yang menggarap sawah untuk membiayai paman. Dan paman sangat pengertian, sebenarnya dia tidak minta apaapa. Apa yang dia punya sudah cukup. Dia kebetulan mendapatkan isteri teman sekolahnya, anak penilik sekolah jadi lebih tercukupi. Tapi ayah tetap meminta kepada paman agar sawah sepetak itu dibagi dua. Paman tidak boleh menolaknya. Akhirnya yang kami punya adalah rumah peninggalan kakek yang sangat sederhana dan sawah seperempat bahu. Apa yang bisa diharapkan dari sawah setengah bahu. Ayah tetap menggarap sawah itu dengan menanam padi. Hasilnya di makan sendiri. Untuk keperluan lain ibu jualan gorengan di pasar dan ayah jualan tape[77]dengan berkeliling dari kampung ke kampung. Jika hari minggu aku diajak ayah ikut serta. Berjalan berkilo-kilo. Jika telah dekat dengan rumah penduduk ayah akan berteriak, ‘Pe tape! Pe tape! Pe tape!’

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.