Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

Aku menitikkan air mata membaca kisah penderitaan yang dialami Noura. Aku tidak melihat bekas-bekas cambukan di punggungnya, tapi aku bisa merasakan sakitnya. Aku tidak melihat wajahnya saat itu tapi hatiku bisa menangkap rintihan batinnya yang remuk redam. Aku seolah ikut merasakan kecemasan, ketakukan dan kesendiriannya selama ini dalam neraka yang dicipta Si Muka Dingin Bahadur. Aku tiba-tiba merasa Noura itu seperti adik kandungku sendiri. Entah bagaimana aku bisa merasakan begitu, padahal aku tidak memiliki adik. Aku anak tunggal. Tapi aku seperti merasakan apa yang dirasakan Noura. Seandainya dia adikku tentu tidak akan aku biarkan ada orang jahat menyentuh kulitnya. Akan aku korbankan nyawaku untuk melindunginya.

Aku kembali menitikkan air mata. Oh Noura, semoga Allah menjagamu di dunia dan di akhirat. Gadis berwajah putih dan innocence itu selalu berjalan menunduk. Jika berpapasan kami hanya bersapa dengan tatapan mata sekilas. Tanpa kata-kata. Tapi kami merasa dekat dan saling kenal. Aku tidak mungkin membiarkan Noura terus jadi bulan-bulanan para serigala berkepala manusia. Aku harus melakukan sesuatu. Tapi apa? Dan sampai sejauh mana langkahku? Aku adalah orang asing di sini. Aku menarik nafas panjang. Diam memejamkan mata dengan pikiran terus mengembara mencari jalan keluar. Aku tidak bisa, dan tidak akan mampu bertindak sendiri. Akan aku serahkan masalah ini pada Syaikh Ahmad, dia adalah intelektual muda yang sangat peduli pada siapa saja. Beliau pasti mau membantu Noura.

 

8. Getaran Cinta

Setelah shalat shubuh aku tidak langsung pulang, tapi menemui Syaikh Ahmad. Kukabarkan pada beliau kelulusanku dan rencanaku membuat proposal tesis. Imam muda berhati lembut itu mengecup kepalaku berkali-kali. Begitulah cara orang Arab memberikan tanda penghormatan yang tinggi. Penghormatan orang yang dianggap sangat dekat. Dari bibirnya keluar ucapan selamat dan doa tiada henti. Beliau bahkan menawarkan agar jika naskah proposal selesai kususun diserahkan terlebih dahulu padanya untuk dilihat bahasanya. Jika ada gaya bahasa yang mungkin kurang tepat beliau akan mentashihnya. Aku sangat senang mendengarnya. Barulah aku jelaskan padanya kisah derita Noura panjang lebar dan mendetail seperti yang aku lihat dan aku ketahui. Beliau menitikkan air mata mendengarnya.

“Di Mesir ini, banyak sekali orang mengakui muslim tapi akhlaknya tidak muslim. Mengaku Islam tapi sangat jauh dari cahaya Islam. Bagaimana mungkin seorang ayah yang mengaku umat Muhammad bisa begitu kejam pada anaknya, pada seorang gadis yang semestinya dia lindungi dan dia sayangi. Fahri, menghantarkan kesejukan ruh Islam ke dalam hati semua pemeluknya memang tidak semudah membalik kedua telapak tangan. Tapi kita tidak boleh berpangku tangan, apalagi berputus asa. Sebisa kita, kita harus terus berusaha,” kata Syaikh Ahmad sambil menarik nafas.

“Tidak hanya di Mesir saja Syaikh, di Indonesia juga ada. Bahkan di Indonesia lebih parah. Ada lelaki yang meniduri anak gadisnya dengan paksa. Lebih parah lagi ada yang tega menjual isteri dan anak gadisnya pada lelaki hidung belang. Setan memang ada di mana-mana. Dengan segala tipu dayanya, setan selalu berusaha membutakan hati manusia sehingga mereka beranggapan tindakan yang keji menjadi terpuji.”

“Laa haula wa laa quwwata illa billah!” ucap Syaikh Ahmad sambil memejamkan mata. Beliau lalu menepuk pundakku dan mengatakan dirinya akan terjun langsung membantu Noura secepatnya. Sebelum musim masuk sekolah tiba derita Noura harus diakhiri. Syaikh Ahmad berterima kasih atas segala yang telah kami lakukan. Beliau meminta agar jam sembilan nanti aku mengantarkan beliau menemui Noura di Nasr City. Beliau hendak mengambil Noura dan menempatkannya di tempat yang aman. Menurut beliau jika sampai nanti ayahnya tahu Noura berada di tempat mahasiswi Indonesia akan membuat masalah. Kasihan para mahasiswi jika terganggu belajarnya. Noura harus secepatnya dipindahkan ke tempat yang tepat. Kami sepakat untuk bertemu di depan mahattah Hadayek Helwan.

Aku segera pulang dan menelpon Nurul, memberitahukan rencana Syaikh Ahmad. Aku minta padanya untuk tidak pergi. Sekitar pukul sepuluh, kami insya Allah, sampai. Tepat pukul sembilan aku sampai di tempat yang dijanjikan. Syaikh Ahmad telah menunggu di dalam mobil Fiat tuanya. Seorang wanita berjilbab panjang duduk di samping beliau. Syaikh Ahmad memang hidup sederhana meskipun kata masyarakat beliau orang berada. Isteri beliau seorang dokter yang membuka praktek di Helwan dan membantu orang tidak mampu dengan membuka praktek di klinik masjid. Syaikh Ahmad mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.

Pukul sepuluh lebih sepuluh kami sampai di kediaman Nurul dan kawankawannya yang berada di tingkat enam. Para mahasiswi itu dipeluk oleh isteri Syaikh Ahmad dengan penuh kehangatan. Ketika memeluk Noura, isteri Syaikh Ahmad menangis tersedu-sedu. Berkali-kali ia mencium pipi gadis innocent itu. Syaikh Ahmad menjelaskan maksud kedatangan dia dan isterinya. Semuanya mengerti termasuk Noura. Noura akan dibawa ikut serta ke kampung halaman Syaikh Ahmad. Ke rumah orang tua Syaikh Ahmad di desa Tafahna El-Ashraf, Zaqaziq. Noura menurut. Setelahlah Noura siap terjadilah perpisahan yang mengharukan. Nurul dan teman-temannya terisak dan bergantian memeluk Noura. Noura juga menangis sambil mengucapkan terima kasih tak terhingga. Nurul bilang pada Noura, “Noura kau juga harus mengucapkan terima kasih tiada terhingga pada Akh Fahri.”

Noura menatapku sekilas dengan mata berkaca lalu menunduk dan dengan suara lirih dia menyampaikan rasa terima kasih dari hati yang terdalam. Kalau dia adikku pasti sudah kupeluk dengan penuh rasa sayang. Aku hanya mengangguk dan membesarkan hatinya bahwa Syaikh Ahmad dan isterinya akan membukakan jalan yang baik baginya. Mereka berdua orang-orang yang baik dan berhati lembut. Agar tidak mencurigakan, Noura diminta Syaikh Ahmad memakai cadar. Nurul dan teman-temannya diminta tidak turun ke bawah. Cukup melihat dari jendela saja. Kami berempat turun. Syaikh Ahmad masuk mobil diikuti isteri dan Noura. Aku mengucapkan salam dan selamat jalan. Kali ini Noura memandang diriku agak lama. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya. Aku terus berdoa semoga ia terbebas dari derita yang membelenggunya. Aku kembali ke Hadayek Helwan dengan hati lega. Syaikh Ahmad akan mengurus segalanya.

* * *

Sampai di rumah aku langsung melihat jadwal. Aku harus talaqqi ke Shubra. Aku mencela diriku sendiri kenapa setelah dari Rab’ah El-Adawea tadi tidak langsung ke Shubra saja. Namanya juga lupa. Telpon berdering. Nurul menelpon menanyakan bagaimana dengan uang yang telah aku berikan padanya. Padahal Noura hanya beberapa hari tinggal di rumahnya dan uang yang aku berikan padanya nyaris belum digunakan untuk apa-apa. Aku bilang tidak usah dipikirkan dan dikembalikan, terserah mau diapakan yang penting untuk kebaikan. Nurul dan teman-temannya orang yang jujur dan amanah. Keuangan negara tidak akan bocor jika ditangani oleh orang-orang seperti mereka. Aku salut padanya. Tiba-tiba aku teringat ledekan Si Rudi kemarin, ‘Jangan-jangan dia orangnya!…. Congratulation Mas. She is the star, she is the true coise, she will be a good wife!’.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.