Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

Baru lima halaman Rudi berteriak, “Mas Fahri telpon from the true coise!” Rudi itu masih meledek aku rupanya ia menyebut Nurul “the true coise”. The true coise bagi siapa? Aku mendesah panjang. Pagi-pagi mau tenang sedikit saja tidak bisa. Kuangkat gagang telpon, “Halo. Siapa ya?”

“Alah, udah tahu pura-pura tanya pula!” celetuk Rudi dengan logat Medannya yang membuat telingaku terasa gatal. Anak ini resek sekali.

“Ini Nurul. Ini dengan Kak Fahri ya?” suara di seberang sana.

“Ya. Kemarin katanya nelpon ya?Ada apa?”

“Ah enggak. Kemarin sebetulnya ada yang ingin Nurul tanyakan, tapi jawabannya sudah ketemu.”

“Lha ini nelpon ada apa?”

“Tentang Noura.”

“Ada apa dengan Noura?”

“Tadi malam dia sudah menceritakan semuanya pada saya. Dia memang gadis yang malang. Ceritanya sangat mengenaskan.”

“Bagaimana ceritanya?”

“Maaf Kak, aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Sangat panjang.”

“Oh aku paham. Kau tutup saja telponmu. Biar aku yang telpon.”

“Bukan pulsa masalahnya Kak.”

“Terus enaknya bagaimana?”

“Sore nanti kami, pengurus Wihdah diundang Pak Atdikbud di rumahnya yang dekat SIC. Kakak bisa nggak ke SIC jam lima?”

“Sayang nggak bisa Nur.”

“Terus bagaimana?”

“Minggu-minggu ini jadwalku padat. Susah meluangkan waktu buat appoinment baru. Bagaimana kalau segala yang diceritakan Noura kau tulis saja semuanya. Pakai tulisan tangan tidak apa-apa. Kulihat cerpenmu pernah nampang di bulletin Citra. Kayaknya lebih praktis. Lebih enak. Tapi kalau bisa secepatnya.”

“Akan Nurul usahakan. Kapan Kakak ingin mengambilnya?”

Aku berpikir sejenak. Kapan aku akan keluar ke Nasr City. Satu minggu lagi. Terlalu lama. Oh ya, aku ingat, Mishbah masih di wisma dia akan pulang selepas shalat ashar. Dan Rudi setelah makan pagi nanti akan pergi ke Wisma untuk diskusi.

“Kalau kau bisa menulisnya sekarang juga, habis zhuhur aku bisa minta teman untuk mengambilnya.”

“Insya Allah bisa. Siapa nanti yang mengambil Kak?”

“Kalau tidak Mishbah ya Rudi.”

“Bilang jangan lebih jam tiga. Aku sudah tidak dirumah. Itu saja Kak ya.”

“Terima kasih Nur.”

“Kembali.”

Aku menutup gagang telpon dengan hati penasaran. Apa sesungguhnya yang dialami oleh gadis Mesir yang lemah lembut bernama Noura itu. Aku berharap nanti sore atau nanti malam sudah mengetahuinya.

 

7. Di Cleopatra Restaurant

“Dia benar-benar anak pelacur sial! Dia benar-benar anak setan! Anak tak tahu diuntung. Kalau sampai tampak batang hidungnya akan kurajah-rajah mukanya biar tahu rasa!”

Kami mendengar Si Muka Dingin Bahadur menyumpah serapah dari dalam flatnya dengan suara seperti guntur. Entah ada apa lagi. Lalu kami mendengar suara perempuan membentak tak kalah sengitnya. Ia menyalahkan Si Muka Dingin dan memakinya habis-habisan. Itu mungkin suara Madame Syaima, isteri Si Muka Dingin. Madame Syaima tidak terima dibilang pelacur. Lalu terdengar tamparan dan jeritan. Beberapa barang pecah. Kami berlima sudah sampai di halaman. Baru Yousef yang turun menyusul. Pakaiannya fungky betul. Tuan Boutros, Madame Nahed dan Maria belum turun.

“Maaf ya agak terlambat. Biasa, perempuan dandan dulu,” kata Yousef.

Kami manggut-manggut saja. Tak lama kemudian Tuan Boutros, Madame Nahed dan Maria tampak menuruni tangga apartemen satu persatu. Mereka berjalan mendekati kami. Tuan Boutros tampak lebih muda dari biasanya. Ia memakai kemeja warna krem dengan lengan dilingkis. Madame Nahed berpenampilan seperti aristokrat Perancis. Pafumnya menyengat. Ini yang aku tidak suka. Wanita Mesir kalau memakai parfum seolah harus tercium dari jarak seratus meter. Yang paling menawan tentu saja Maria. Dengan gaun malam merah tua dan menggelung rambutnya ia terlihat sangat cantik. Wajah pualamnya seperti bersinar di kegelapan malam. Mereka benar-benar siap ke pesta. Kami berlima berpakaian biasa saja. Si Rudi malah memakai celana trening warna biru muda. Trening yang terkadang buat main sepak bola. Memang benar-benar seadanya.

Tuan Boutros mengatur siapa yang ikut mobilnya dan siapa yang ikut mobil Yousef. Keluarga itu memang memiliki dua mobil. Jeep Cheroke hijau metalik yang biasa dibawa Tuan Boutos kerja dan sedan forsa hitam yang seringkali dibawa Yousef. Empat orang dari kami ikut mobil Yousef. Madame Nahed dan Maria ikut Tuan Boutros. Aku melangkah ke arah mobil Yousef. Namun Tuan Boutros memanggil, “Fahri, kau ikut aku!”

“Ya, kau naik sini Fahri!” seru Madame Nahed.

Terpaksa aku belok ke mobil Cheeroke. Madame Nahed naik di depan dan duduk di samping Tuan Boutros. Maria di belakang. Masak aku harus duduk di samping Maria. Dan parfumnya itu. Nuraniku tidak setuju. Satu mobil tak apa, tapi selama tempat duduk bisa di atur lebih aman di hati kenapa tidak. Aku mendekati Madame Nahed dan berbicara dengan halus,

“Maaf Madame, boleh saya duduk di depan. Saya ingin berbincangbincang dengan Tuan Boutros selama dalam perjalanan.”

Madame Nahed tersenyum, “Oh ya, dengan senang hati.”

Dia lalu turun dan pindah ke belakang duduk di samping puterinya. Aku naik dan duduk di samping Tuan Boutros. Belum sempat Tuan Boutros menyalakan mesin terdengar suara Si Muka Dingin memanggil dengan suara mengguntur,

“Hai Boutros tunggu!”

Kami semua menoleh ke asal suara. Si Muka Dingin datang dengan tergopoh.

“Di mana Noura kau sembunyikan, Boutros!”

Kami berpandangan. Si Muka Dingin telah berdiri di dekat Tuan Boutros. Dengan tenang Tuan Boutros menjawab, “Apa saya tidak memiliki urusan yang lebih penting dari mengurusi anakmu, heh?”

“Kau pasti tahu di mana Noura berada?”

“Siapa yang peduli dengan anakmu?”

“Malam itu sebelum tidur Mona melihat Maria turun menghibur Noura di jalan. Kalian pasti tahu sekarang di mana Noura berada!”

“Malam itu malam itu apa? Aku tidak tahu! Kalau begitu tanya saja sama Maria. Jangan tanya aku!”

“Hai Maria bicara kau! Kalau tidak kusumpal mulutmu dengan sandal!” si Muka Dingin menyalak keras seperti anjing.

Dadaku panas sekali mendengar kalimat Si Muka Dingin yang tidak tahu sopan santun ini. Tuan Boutros kulihat menggerutukkan giginya, ia tentu marah puterinya dibentak kasar begitu, tapi mukanya tetap tenang memandang ke depan. Ia tidak menjawab sepatah kata pun.

“Tuan Bahadur, memang benar, malam itu aku turun menghibur Noura. Tapi Noura tidak bisa dihibur. Ia menangis terus dan tidak berbicara sepatah kata pun padaku. Aku jengkel, lalu ya kutinggal dia. Setelah itu aku tidak tahu kemana dia. Kukira dia kembali ke rumah Anda.”

“Hmm…jadi begitu. Anak itu memang keras kepala dan menjengkelkan bukan? Kau saja dibuat jengkel. Aku ayahnya dibuat jengkel setiap hari. Kalau ketemu akan kubunuh anak itu biar tidak membuat jengkel lagi!”

“Sudah cukup bicaramu Bahadur? Kami ada urusan!” Kata Tuan Boutros.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.