Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

Usai shalat aku kembali menelentangkan badan. Kali ini di atas tempat tidur, entah kenapa kepalaku terasa nyut-nyut. Atau mungkin karena kelelahan dua hari ini. Mimpi bertemu Noura masih ada dipikiran. Juga Nurul, kenapa ia menangis dan marah. Apakah ini hanya kebetulan, atau jangan-jangan betulan. Aku jarang sekali bermimpi yang bukan-bukan. Mimpi bertemu perempuan bagiku adalah mimpi yang bukan-bukan. Aku masih bisa menghitung berapa kali aku bermimpi bertemu perempuan. Tak ada sepuluh kali. Semuanya bertemu perempuan yang satu, yaitu ibuku. Kali ini aku bertemu Noura yang memperlihatkan rambutnya yang pirang dan Nurul yang menangis dan marah. Yang kupikirkan adalah Nurul. Apakah Nurul sejatinya menerima kehadiran Noura dengan terpaksa. Hatiku tidak tenang. Aku bangkit. Tidak jadi tidur lagi. Kutelpon Nurul.

“Tidak ada acara Nur?”

“Sore ini tidak ada Kak. Jadwalnya istirahat.”

“Bagaimana dengan Noura?”

“Baik. Dia sekarang sedang tidur di kamarku. Benar katamu Kak, dia memang patut di kasihani. Punggungnya penuh luka cambuk.”

“Benarkah?”

“Ya.”

“Apa dia sudah bercerita banyak pada kalian?”

“Belum. Masih dalam taraf mencoba saling kenal. Tapi dia tidak tahan merasakan sakit di punggungnya akhirnya dia sedikit bercerita kalau ayahnya suka mencambuknya dengan ikat pinggang. Ayah yang kejam!”

“Sudah dibawa ke dokter?”

“Belum, rencananya nanti sore.”

“Nur, boleh aku tanya sedikit. Ini soal pribadi.”

“Apa itu Kak?”

“Apa kau sedang marah?”

“Marah kenapa?”

“Karena Noura. Apa kalian menerimanya dengan terpaksa?”

“Jangan suudhan pada saya dan teman-teman Kak. Keberadaan Noura di sini tidak ada masalah kok. Kenapa sih Kakak terlalu berprasangka begitu?”

“Ya aku kuatir saja kalian merasa terganggu dan direpotkan.”

“Nggak. Nggak apa-apa. Sure nggak apa-apa. Jangan kuatir!”

“Syukran kalau begitu.”

“Afwan.”

Benar, tadi itu yang datang dalam lelapku dari setan.

Nurul tidak apa-apa.

Suaranya juga bening ceria seperti biasa. Tidak ada rasa jengkel atau marah sedikit pun. Sekarang Noura berambut pirang. Benarkah? Selama ini aku tidak pernah melihat Noura lepas jilbab. Dari mana aku akan cari info. Tanya pada ibu atau kedua kakaknya, gila apa. Tanya Maria. Ya Maria, mungkin dia tahu. Aku balik ke kamar. Mengambil handphone dan mengirim pesan pada Maria.

“Maria boleh tanya?”

Lima menit kemudian,

“Boleh. Tanya apa?” “Jangan kaget ya? Mungkin pertanyaan aneh.” “Apa itu?” “Apa Noura berambut pirang?” “Pertanyaanmu memang aneh. Jawabnya ya, dia berambut pirang. Kenapa kau tanyakan itu?” “Ingin tahu saja. Tapi jika dia berambut pirang memang aneh.” “Aneh bagaimana? Orang Mesir biasa berambut pirang.” “Bukan itu maksudku. Bukankah ayah dan ibunya seperti orang Sudan? Hitam dan berambut negro?” “Kau ingin mengatakan Noura bukan anak mereka.” “Entahlah. Ini hanya firasat.” “Tapi firasatmu mungkin ada benarnya.” “Hanya Tuhan yang tahu.”

Aku kembali menelentangkan badan di atas kasur. Saatnya tidur. Baru dua detik mata terpejam, handphoneku menjerit. Nomor tak kukenal. Siapa ya? Kuangkat,

“Assalamu’alaikum.”

Suara bening perempuan. Logatnya agak aneh. Siapa ?

“Wa ‘ailakumussalam. Ini siapa ya?” jawabku balik bertanya.

“Sind Sie Herr Fahri?”[57] Dia malah balik bertanya dengan bahasa Jerman. Aku langsung teringat perempuan bercadar biru muda yang kemarin bertemu di dalam metro. Dia pasti Aisha.

“Ja. Sie Aisha?” jawabku dengan bahasa Jerman.

“Ja. Herr Fahri, haben Sie zeit?[58]” Pertanyaannya mengandung maksud mengajak bertemu.

“Heute?”[59]

“Ja. Heute, ba’da shalat el ashr.”[60]

Aku ingin tertawa mendengar dia mencampur bahasa Jerman dengan bahasa Arab. Tapi memang tepat. Kata-kata shalat sejatinya susah diterjemahkan ke dalam bahasa lain secara pas.

“Nein danke, heute ba’da shalat el ashr habe ich leider keine Zeit! Ich habe schon eine verabredung!”[61] Maksudku adalah janji pada jadwal untuk menerjemah.

Aisha lalu menjelaskan ia ingin bertemu denganku secepatnya. Ia minta aku bisa meluangkan sedikit waktu. Karena sangat penting. Berkaitan dengan Alicia yang katanya ingin berbincang seputar Islam dan ajaran moral yang dibawanya. Alicia ingin sekali bertanya banyak hal padaku sejak kejadian di atas metro itu. Aisha memohon dengan sangat, sebab menurutnya ini kesempatan yang baik untuk menjelaskan Islam yang sebenarnya pada orang Barat. Aisha mengatakan Alicia seorang reporter berita. Ia wartawan dan ini kesempatan emas. Mau tak mau aku mengiyakan dan menawarkan bagaimana jika bertemu besok. Ia senang sekali mendengarnya. Kami membuat kesepakatan bertemu di mahattah metro bawah tanah Maydan Tahrir tepat jam setengah sebelas. Aku minta padanya untuk datang tepat waktu. Ia tertawa. Sedikit ia meledek, bukankah seharusnya dia yang meminta padaku untuk datang tepat waktu. Aku tersenyum kecut. Memang orang Indonesia terkenal jam karetnya. Aku tidak sangka kalau orang seperti Aisha tahu akan hal itu. Aku tidak perlu bertanya padanya dari mana ia tahu itu. Sebuah pertanyaan bodoh di dunia global seperti sekarang ini. Bukankah dengan kecanggihan teknologi jarum jatuh di pelosok Merauke sana bisa terdengar sampai ke New York dan ke seluruh penjuru dunia?

Aku langsung menulis janji bertemu Aisha pada planning kegiatan esok hari. Ternyata padat. Besok jadwal khutbah di masjid Indonesia. Berarti nanti malam mempersiapkan bahan khutbah. Pagi diketik dan langsung di-print. Lantas istirahat. Tidak ke mana-mana. Tidak juga sepak bola. Untuk stamina khutbah. Kalaupun ingin melakukan sesuatu lebih baik menerjemah beberapa halaman. Jam sembilan berangkat. Sampai di Tahrir kira-kira jam sepuluh. Kalau misalnya metro sedikit terlambat, aku bisa tetap datang tepat waktu. Lantas berbincang dengan Aisha dan Alicia sampai jam sebelas. Setelah itu pergi ke Dokki untuk khutbah. Aku harus datang di awal waktu biar tidak gugup. Begitu rencananya. Jika tidak dibuat outline yang jelas seperti itu akan membuat hidup tidak terarah dan banyak waktu terbuang percuma.

Kulihat kalender. Melihat kalender adalah hal yang paling kusuka. Karena bagiku dengan melihatnya optimisme hidup itu ada.

Jum’at tanggal sembilan dan Sabtu tanggal sepuluh. Ada tanda pada tanggal sepuluh. Hmm..kapan aku memberi tanda dan untuk apa? Jangan-jangan aku ada janji dengan seseorang. Aku berusaha mengingat-ingat. Rancangan kegiatan satu bulan aku lihat. Juga tidak ada janji khusus. Terus itu tanda apa ya? Hari Minggunya, tanggal sebelas juga ada tanda yang sama. Dua hari berturutturut. Aku teringat sesuatu. Ya itu tanda yang aku bubuhkan tiga bulan lalu begitu tahu tanggal lahir seluruh keluarga Tuan Boutros. Aku berniat memberikan hadiah untuk mereka, tepat di hari ulang tahun mereka. Madame Nahed, ibunya Maria, ulang tahun tanggal 10 Agustus. Si Yousef adik lelaki Maria tanggal 11 Agustus, satu hari setelah ibunya. Sedangkan Tuan Boutros 26 Oktober, dan Maria 24 Desember. Tanggal-tanggal itu telah aku beri tanda. Aku paling suka memberi kejutan pada teman atau kenalan. Teman satu rumah sudah mendapatkan hadiah mereka pada hari istimewa mereka. Berarti besok kegiatannya bertambah satu, mencarikan hadiah untuk Madame Nahed dan Yousef. Hadiah yang sederhana saja. Sekadar untuk memberikan rasa senang di hati tetangga. Tiba-tiba aku berpikir ingin memberikan hadiah pada Si Muka Dingin Bahadur, ayah Noura yang mirip orang Sudan itu. Apa reaksinya kira-kira?

* * *

 

5. Pertemuan di Tahrir

Jam 10.10 aku sampai di mahattah metro bawah tanah Maydan Tahrir. Sesuai dengan janji, kami akan bertemu di jalur metro menuju Giza Suburban. Tempatnya lebih nyaman. Lebih indah. Aku mencari tempat duduk yang paling mudah dilihat. Janjinya tepat setengah sebelas. Aku datang dua puluh menit lebih awal. Sambil menunggu aku membaca kembali bahan khutbah yang telah kupersiapkan. Keadaan mahattah tidak terlalu ramai. Menjelang shalat Jum’at seperti ini biasanya memang agak lengang. Seorang polisi bersiaga dengan senjata di pinggang. Petugas kebersihan berseragam menyapu pelan-pelan. Seorang perempuan berjubah hitam bercadar hitam datang. Kukira dia Aisha, ternyata bukan. Perempuan itu tidak melihat ke arahku sama sekali. Begitu metro datang, ia langung naik dan hilang.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.