Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

Aku merenungkan penjelasan Maria. Sungguh bijak dia. Kata-kata adalah cerminan isi hati dan keadaan jiwa. Kata-kata Maria menyinarkan kebersihan jiwanya. Sebesar apa pun keikhlasan untuk menolong tapi masalah akidah, masalah keimanan dan keyakinan seseorang harus dijaga dan dihormati. Menolong seseorang tidak untuk menarik seseorang mengikuti pendapat, keyakinan atau jalan hidup yang kita anut. Menolong seseorang itu karena kita berkewajiban untuk menolong. Titik. Karena kita manusia, dan orang yang kita tolong juga manusia. Kita harus memanusiakan manusia tanpa menyentuh sedikit pun kemerdekaannya meyakini agama yang dianutnya. Tak lebih dan tak kurang. Ah, andaikan umat beragama sedewasa Maria dalam memanusiakan manusia, dunia ini tentu akan damai dan tidak ada rasa saling mencurigai. Diam-diam aku bersimpati pada sikap Maria.

Aku lalu berpikir sejenak mencari jalan keluar. Sebenarnya aku bisa ke tempat Syaikh Ahmad. Tapi masalahnya, waktu sangat mendesak. Noura harus segera pergi sebelum keluarganya bangun. Dan dia harus pergi sendiri, agar tidak ada yang disalahkan, atau terseret ke dalam pusaran masalahnya dengan keluarganya. Aku teringat sesuatu.

“Oh ya aku ada ide,” kataku.

“Apa itu?” tuan Boutros dan Maria menyahut bareng.

“Bagaimana kalau sementara waktu Noura tinggal di salah satu rumah mahasiswi Indonesia di Nasr City.”

“Saya kira ini usul yang bagus. Mungkin mahasiswi Indonesia itu bisa mendekatinya dan Noura bisa menceritakan semua derita yang dialaminya. Setelah itu bisa dicarikan pemecahan bersama yang lebih baik. Sebab dia kelihatannya sudah benar-benar dimusuhi keluarganya. Noura berkata, bahkan ibunya sendiri yang dulu sering membelanya kini berbalik ikut memusuhinya. Kita tidak tahu apa yang terjadi pada Noura sebenarnya,” ujar Maria.

“Baiklah aku akan menghubungi seorang mahasiswi Indonesia di Nasr City.”

“Lebih cepat lebih baik. Waktunya semakin sempit.”

Aku langsung bergegas mengambil gagang telpon dan memutar nomor rumah Nurul, Ketua Wihdah, induk organisasi mahasiswi Indonesia di Mesir. Seorang temannya bernama Farah yang menerima, memberitahukan Nurul baru sepuluh menit tidur, sebab tadi malam ia bergadang di sekretariat Wihdah.

“Tolong, ini sangat mendesak!” paksaku.

Akhirnya beberapa menit kemudian Nurul berbicara,

“Ada apa sih Kak. Tumben nelpon kemari?”

Aku lalu mengutarakan maksudku, meminta bantuannya, agar bisa menerima Noura bersembunyi di rumahnya beberapa hari. Mula-mula Nurul menolak. Ia takut kena masalah. Di samping itu, tinggal bersama gadis Mesir belum tentu mengenakkan. Aku jelaskan kondisi Noura. Akhirnya Nurul menyerah dan siap membantu.

“Begini saja Kak Fahri. Si Noura suruh turun di depan Masjid Rab’ah. Aku dan Farah akan menjemputnya tepat pukul setengah sembilan.”

“Baiklah.”

Hasil pembicaraanku dengan Nurul aku jelaskan pada Tuan Boutros dan Maria. Mereka tersenyum lega. Mereka mengajakku ke atas ke flat mereka untuk menjelaskan segalanya pada Noura. Di ruang tamu rumah Tuan Boutros, Noura menunduk dengan wajah sedih. Ada bekas biru lebam di pipinya yang putih. Matanya memerah karena terlalu banyak menangis. Aku meyakinkan, dia akan aman di tempat Nurul. Mereka semua mahasiswi Al Azhar dari Indonesia yang halus perasaannya dan baik-baik semua. Noura mengucapkan terima kasih atas pertolongan dan meminta maaf karena merepotkan. Kujelaskan di mana dia akan dijemput Nurul dan Farah.

“Biar cepat, kau naik metro sampai Ramsis. Setelah itu naik Eltramco jurusan Hayyul Asyir atau Hayyu Sabe’ yang lewat masjid Rab’ah. Turun di masjid Rab’ah dan cari dua mahasiswi Indonesia. Kau tentu tahu ‘kan muka orang Indonesia. Nurul memakai kaca mata jilbabnya panjang. Farah tidak pakai kaca mata, dia suka jilbab kecil. Ditunggu setengah sembilan tepat. Ini nomor telpon rumahnya,” kataku sambil menyerahkan selembar kertas bertuliskan nomor telpon dan selembar uang dua puluh pound. “Terimalah untuk ongkos perjalanan dan untuk menelpon kalau ada apa-apa.”

Noura terlihat ragu.

“Jangan ragu. Aku tidak bermaksud apa-apa. Kita ini satu atap dalam payung Al Azhar. Sudah selayaknya saling menolong,” kataku meyakinkan.

“Noura, terimalah. Fahri ini orang yang baik. Dia hafal Al-Qur’an. Apa kamu tidak percaya dengan orang yang hafal Al-Qur’an?” ucap Maria meyakinkan Noura.

Akhirnya Noura mau menerima kertas dan uang dua puluh pound itu dengan mata berlinang. Bibirnya bergetar mengucapkan rasa terima kasih. Pagi itu juga Noura pergi ke Nasr City dengan langkah gontai. Saat menatap Maria ia mengucapkan rasa terima kasih dan berusaha tersenyum.

* * *

Pukul sembilan Nurul menelpon, Noura sudah berada di tempatnya. Dia minta saya datang, sebab ada seorang anggota rumahnya yang belum bisa menerima Noura tinggal di sana. Terpaksa saat itu juga aku meluncur ke Nasr City. Sampai di sana aku menjelaskan panjang lebar apa yang menimpa Noura. Aku jelaskan penderitaannya seperti yang telah berkali-kali aku lihat. Tentang ayahnya, ibunya dan kakak perempuannya yang tiada henti menyiksa fisik dan batinnya. Tentang betapa baiknya keluarga Maria dan betapa dewasanya mereka menyarankan agar Noura tinggal di rumah orang yang seiman dengannya agar lebih at home. Mendengar itu semua mereka menitikkan air mata dan siap menerima Noura.

Dari Nasr City aku langsung ke kampus Al Azhar di Maydan Husein. Langsung ke syu’un thullab dirasat ulya.[54] Mereka mengucapkan selamat atas kelulusanku. Aku diminta segera mempersiapkan proposal tesis. Setelah itu aku ke toko buku Dar El-Salam yang berada di sebelah barat kampus, tepat di samping Khan El-Khalili yang sangat terkenal itu. Untuk melihat buku-buku terbaru Dar El-Salam adalah tempat yang paling tepat dan nyaman. Buku terbaru Prof. Dr. M. Said Ramadhan El-Bouthi menarik untuk dibaca. Kuambil satu.

Keluar dari Dar El-Salam matahari sudah sangat tinggi mendekati pusar langit. Udara sangat panas. Tak jauh dari Dar El-Salam ada penjual tamar hindi. Aku tak bisa mengekang keinginanku untuk minum. Satu gelas saja rasanya luar biasa segarnya. Aku pulang lewat Attaba. Aku teringat jadwal belanja. Kusempatkan mampir di pasar rakyat Attaba. Dua kilo rempelo ayam, satu kilo kibdah[55]dan dua kilo suguq[56] kukira cukup untuk lauk beberapa hari.

Begitu masuk mahattah metro, azan zhuhur berkumandang. Dalam perjalanan, panas matahari kembali memanggang. Sampai di rumah pukul dua kurang seperempat. Aku masuk kamar dengan ubun-ubun kepala terasa mendidih. Musim panas memang melelahkan. Sampai di flat aku langsung teler. Telentang di karpet dengan dada telanjang menikmati belaian hawa sejuk yang dipancarkan kipas angin kesayangan yang membuatku terlelap sesaat.

Dalam lelap, aku melihat Noura di pucak Sant Catherin, Jabal Tursina. Ia melepas jilbabnya, rambutnya pirang, wajahnya bagai pualam, ia tersenyum padaku. Aku kaget, bagaimana mungkin Noura berambut pirang, padahal ayah dan ibunya mirip orang Sudan. Hitam dan rambutnya negro. Aku menatap Noura dengan heran. Lalu Nurul datang. Ia menangis padaku, lalu marah-marah pada Noura. Aku terbangun membaca ta’awudz dan beristighfar berkali-kali. Jam setengah tiga. Aku belum shalat. Setan memang suka memanfaatkan kelemahan manusia. Tak pernah merasa kasihan. Untung waktu zhuhur masih panjang. Aku beranjak untuk shalat.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.