Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

Benar, di gerbang apartemen kami melihat seorang gadis diseret oleh seorang lelaki hitam dan ditendangi tanpa ampun oleh seorang perempuan. Gadis yang diseret itu menjerit dan menangis. Sangat mengibakan. Gadis itu diseret sampai ke jalan.

“Jika kau tidak mau mendengar kata-kata kami, jangan sekali-kali kau injak rumah kami. Kami bukan keluargamu!” sengit perempuan yang menendangnya.

Kami kenal gadis itu. Kasihan benar dia. Malang nian nasibnya. Namanya Noura. Nama yang indah dan cantik. Namun nasibnya selama ini tak seindah nama dan paras wajahnya. Noura masih belia. Ia baru saja naik ke tingkat akhir Ma’had Al Azhar puteri. Sekarang sedang libur musim panas. Tahun depan jika lulus dia baru akan kuliah. Sudah berulang kali kami melihat Noura dizhalimi oleh keluarganya sendiri. Ia jadi bulan-bulanan kekasaran ayahnya dan dua kakaknya. Entah kenapa ibunya tidak membelanya. Kami heran dengan apa yang kami lihat. Dan malam ini kami melihat hal yang membuat hati miris. Noura disiksa dan diseret tengah malam ke jalan oleh ayah dan kakak perempuannya. Untung tidak musim dingin. Tidak bisa dibayangkan jika ini terjadi pada puncak musim dingin.

Noura sesengukan di bawah tiang lampu merkuri. Ia duduk sambil mendekap tiang lampu itu seolah mendekap ibunya. Apa yang kini dirasakan ibunya di dalam rumah. Tidakkah ia melihat anaknya yang menangis tersedu dengan nada menyayat hati. Tak ada tetangga yang keluar. Mungkin sedang lelap tidur. Atau sebenarnya terjaga tapi telah merasa sudah sangat bosan dengan kejadian yang kerap berulang itu. Ayah Noura yang bernama Bahadur itu memang keterlaluan. Bicaranya kasar dan tidak bisa menghargai orang. Seluruh tetangga di apartemen ini dan masyarakat sekitar jarang yang mau berurusan dengan Si Hitam Bahadur. Kulitnya memang hitam meskipun tidak sehitam orang Sudan. Hanya kami yang mungkin masih sesekali menyapa jika berjumpa. Itu pun kami terkadang merasa jengkel juga, sebab ketika disapa ekspresi Bahadur tetap dingin seperti algojo kulit hitam yang berwajah batu. Sejak kami tinggal di apartemen ini belum pernah Si Muka Dingin Bahadur tersenyum pada kami. Kalau suara tawanya yang terbahak-bahak memang sering kami dengar.

Aku paling tidak tahan mendengar perempuan menangis. Kuajak temanteman turun kembali ke flat. Mereka bertanya apa yang harus dilakukan untuk menolong Noura. Aku diam belum menemukan jawaban. Aku masuk kamar, kubuka jendela, angin malam semilir masuk. Noura masih terisak-isak di bawah tiang lampu. Aku dan teman-teman tidak mungkin turun ke bawah menolong Noura. Meskipun dengan sepatah kata untuk menghibur hatinya. Atau untuk memberitahukan padanya bahwa sebenarnya ada yang peduli padanya. Tidak mungkin. Jika ada yang salah persepsi urusannya bisa penjara. Apalagi Si Hitam Bahadur bisa melakukan apa saja tanpa pertimbangan akal sehatnya.

Aku teringat Maria. Ia gadis yang baik hatinya. Rasa ibaku pada Noura menggerakkan tanganku untuk mencoba mengirim sms pada Maria.

“Maria. Apa kau bangun. Kau dengar suara tangis di bawah sana?”

Kutunggu. Lima menit. Tak ada jawaban. Kuulangi lagi. Kutunggu lagi. Ada jawaban.

“Ya aku bangun. Aku mendengarnya. Aku lihat dari jendela Noura memeluk tiang lampu.” “Apa kau tidak kasihan padanya?” “Sangat kasihan.” “Apa kau tidak tergerak untuk menolongnya.” “Tergerak. Tapi itu tidak mungkin.” “Kenapa?”

“Si Hitam Bahadur bisa melakukan apa saja. Ayahku tidak mau berurusan dengannya.” “Tidakkah kau bisa turun dan menyeka air matanya. Kasihan Noura. Dia perlu seseorang yang menguatkan hatinya.” “Itu tidak mungkin.” “Kau lebih memungkinkan daripada kami.” “Sangat susah kulakukan!” Maria menolak. “Kumohon turunlah dan usaplah air matanya. Aku paling tidak tahan jika ada perempuan menangis. Aku tidak tahan. Kumohon. Andaikan aku halal baginya tentu aku akan turun mengusap air matanya dan membawanya ke tempat yang jauh dari linangan air mata selama-lamanya.” “Untuk yang ini jangan paksa aku, Fahri! Aku tidak bisa!” “Kumohon, demi rasa cintamu pada Al-Masih. Kumohon!” “Baiklah, demi cintaku pada Al-Masih akan kucoba. Tapi kau harus tetap mengawasi dari jendelamu. Jika ada apa-apa kau harus berbuat sesuatu.” “Jangan kuatir. Tuhan menyertai orang yang berbuat kebajikan.”

Benar dugaanku. Sebenarnya banyak tetangga yang terbangun oleh teriakan-teriakan Bahadur dan jeritan Noura. Tapi mereka tidak tahu harus berbuat apa. Pernah seorang tetangga memanggil polisi, tapi Noura tidak mau ayahnya diperkarakan, Noura malah mengaku dia yang salah dan ayahnya berhak marah. Mau bagaimana? Noura sepertinya tidak mau dibela padahal apa yang dilakukan ayahnya padanya telah melewati batas. Tuan Boutros, ayah Maria pernah menegur Si Hitam Bahadur atas perlakuannya yang tidak baik pada anak bungsunya. Tapi apa yang terjadi? Bahadur malah melontarkan sumpah serapah yang tidak enak didengar telinga.

Dari jendela aku melihat Maria berjalan mendekati Noura. Ia memakai jubah biru tua. Rambutnya yang hitam tergerai ditiup angin malam. Maria lalu duduk di samping Noura. Ia kelihatannya berbicara pada Noura sambil mengeluselus kepalanya. Noura masih memeluk tiang lampu. Maria terus berusaha. Akhirnya kulihat Noura memeluk Maria dengan tersedu-sedu. Maria memperlakukan Noura seolah adiknya sendiri. Sambil memeluk Noura Maria menengok ke arahku. Aku menganggukkan kepala. Kulihat jam dinding, pukul dua empat puluh lima menit. Teman-teman sudah terlelap. Mereka kekenyangan makan. Maria masih memeluk Noura. Cukup lama mereka berpelukan. Maria melepaskan pelukannya. Tangan kanannya memenjet handphone-nya dan meletakkan di telingannya.

Handphoneku menjerit. Maria bertanya,

“Sekarang apa yang harus kulakukan?”

“Tidak bisakah kau ajak dia ke kamarmu?”

“Aku kuatir Bahadur tahu.”

“Aku yakin dia sudah terlelap. Dan biasanya akan bangun sekitar jam sepuluh pagi. Dia pekerja malam. Tadi jam setengah dua baru pulang terus membuat keributan.”

“Baiklah akan kucoba.”

“Tunggu! Sekalian kau bujuk Noura menceritakan apa yang sebenarnya dialaminya selama ini, agar kita semua para tetangga yang peduli pada nasibnya bisa menolongnya dengan bijaksana.”

“Akan kucoba.”

Sebenarnya Maria bisa bicara langsung tanpa melalui handphone. Tapi dia harus bersuara sedikit keras, dan itu akan mengganggu tetangga yang tidur. Maria memang tidak seperti Mona dan Suzana, dua kakak perempuan Noura yang genit dan keras bicaranya. Seringkali Mona atau Suzana memanggil orang di rumah mereka dari bawah dengan suara keras. Tidak siang tidak malam. Padahal rumah mereka hanya di lantai dua tapi suaranya seperti memanggil orang di lantai tujuh.

Kulihat Maria berhasil membujuk Noura untuk ikut dengannya dan berjalan memasuki gerbang apartemen. Hatiku sedikit lega. Masih ada waktu satu jam setengah sampai subuh tiba. Kupasang beker. Aku ingin melelapkan mata sebentar saja.

* * *

 

4. Air Mata Noura

Meskipun cuma terlelap satu jam setengah, itu sudah cukup untuk meremajakan seluruh syaraf tubuhku. Setelah satu rumah shalat shubuh berjamaah di masjid, kami membaca Al-Qur’an bersama. Tadabbur sebentar, bergantian. Teman-teman sangat melestarikan kegiatan rutin tiap pagi ini. Selama ada di rumah, membaca Al-Qur’an dan tadabbur tetap berjalan, meskipun pagi ini kulihat mata Saiful dan Rudi melek merem menahan kantuk.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.