Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

Malam ini jadwalku sampai jam dua belas. Berhenti ketika shalat Isya. Akhir bulan naskah harus sudah aku kirim ke Jakarta. Setelah itu ada dua buku yang siap diterjemah. Buku kontemporer, bahasanya lebih mudah. Seorang teman pernah mencibir diriku, bahwa menjadi penerjemah sama saja menjadi mesin pengalih bahasa. Aku tak peduli dengan segala cibiran mereka. Aku merasa nikmat dengan apa yang aku kerjakan. Aku bisa belajar menambah ilmu, mentransfer ilmu pengetahuan dan berarti ikut serta mencerdaskan bangsa. Aku bisa berkarya, sekecil apa pun bentuknya. Berdakwah, dengan kemampuan seadanya. Dan yang terpenting aku bisa hidup mandiri dengan royalti yang aku terima. Tidak seperti mereka yang bisanya mencibir saja. Menuruti kata orang tidak akan pernah ada habisnya. Kamu tidak akan mungkin bisa memenuhi segala kesesuaian dengan hati semua manusia! Kata-kata Imam Syafii mengingatkan diriku.

* * *

Pukul 22.00 waktu Cairo. Handphone-ku berdering. Ada sms masuk. Dari Musthafa, teman Mesir satu kelas di pasca. Ia memberikan kabar gembira,

“Mabruk. Kamu lulus. Kamu bisa nulis tesis. Tadi sore pengumumannya keluar.”

Aku merasa seperti ada hawa dingin turun dari langit. Menetes deras ke dalam ubun-ubun kepalaku lalu menyebar ke seluruh tubuh. Seketika itu aku sujud syukur dengan berlinang air mata. Aku merasa seperti dibelai-belai tangan Tuhan. Setelah puas sujud syukurku aku mengungkapkan rasa gembiraku pada teman-teman satu rumah. Mereka semua menyambut dengan riang gembira. Dengan tasbih, tahmid dan istighfar. Dengan mata yang berbinar-binar. Kukatakan pada mereka,

“Malam ini juga kita syukuran. Kita beli firoh masywi[50] dua. Lengkap dengan ashir mangga. Kita makan nanti tengah malam, bersama-sama di sutuh sana. Bagaimana. Eh ra’yukum[51]?”

“Kalau ini sih usul yang susah ditolak!” sahut Saiful senang. Siapa yang tidak senang diajak makan ayam bakar gratis.

Kukeluarkan uang lima puluh pound.

“Biar aku sama Saiful saja yang beli. Mas Fahri sama Hamdi di rumah saja. Kalian masih capek ‘kan karena perjalanan tadi siang. Okay?” Rudi menawarkan diri.

“Okay. Oh ya jangan cuma ashir mangga, beli juga tamar hindi ya? Jangan lupa!” sahut Hamdi. Ia memang paling suka sama tamar hindi. Waktu musim dingin saja ia mencari tamar hindi, apa tidak aneh.

“Beres bos,” seru Saiful.

Keduanya membuka pintu dan keluar.

“Mas aku buat sambal sama menanak sedikit nasi ya?” kata Hamdi.

“Sip. Kita buat bareng,” sambutku sambil mengacungkan kedua jempolku. Memang, tanpa membuat sambal ala Indonesia kurang mantap. Ayam bakar Mesir tidak pakai sambal. Padahal kami berempat adalah orang yang doyan sambal, terutama Hamdi. Dia jebolan pesantren Lirboyo, harus pakai sambal.

Saat melangkah ke dapur aku teringat Mishbah. Tidak adil rasanya kami berempat berpesta tampa mengikutsertakan dia. Namanya keluarga, ketika senang harus dirasakan bersama. Aku tersenyum. Masalah yang mudah. Kutelpon Wisma. Aku minta disambungkan pada Mishbah. Kuberitahukan padanya orang satu rumah akan syukuran atas kelulusanku. Ia berteriak gembira,

“Mas apa aku pulang saja sekarang? Pakai taksi ‘kan cepat!”

“Kerjamu sudah selesai?” tanyaku.

“Belum sih sekarang aku lagi membuat estimasi dana sama Mas Khalid.”

“Kalau begitu kau selesaikan saja pekerjaanmu. Kalau kau pulang ke Hadayek Helwan kau akan terlalu capek. Begini saja Akhi, kau ajak saja Mas Khalid istirahat ke Babay atau ke mana terserah. Ajak makan firoh masywi. Pakai uangmu atau uangnya Mas Khalid dulu. Nanti aku ganti. Jadi adil, bagaimana?”

“Kalau begitu siiip-lah Mas. Pokoknya alfu mabruk deh.” Suaranya terdengar girang. Aku tersenyum. Ah, musim panas yang menyenangkan, meskipun melelahkan.

Dalam segala musim, Tuhan selalu Penyayang.

Itu yang aku rasakan.

* * *

Tepat tengah malam kami pergi ke suthuh.[52] Membawa tikar, nampan besar, empat gelas plastik, ashir mangga, tamar hindi, dan dua bungkus firoh masywi yang masih hangat dan sedap baunya.

Kami benar-benar berpesta. Dua ciduk nasi hangat digelar di atas nampan. Sambal ditumpahkan. Lalu dua ayam bakar dikeluarkan dari bungkusnya. Tak lupa acar dan lalapan timun. Satu ayam untuk dua orang.

“Sekali-kali kita jadi orang Mesir beneran, satu ayam untuk dua orang,” komentar Rudi.

“Kalau ini bukan makan nasi lauk ayam. Ini makan ayam lauk nasi. Nasinya dikit sekali. Mbok ditambah dikit,” sambung Saiful.

“Tujuannya memang kita makan ayam bakar. Nasi pelengkap saja untuk melestarikan budaya Indonesia. Bagi yang mau tambah nasi ambil saja sendiri. Benar nggak Mas?” sahut Hamdi.

“Sekarang bukan saatnya diskusi. Kalau mau diskusi besok Sabtu di Wisma Nusantara. Rudi presentatornya. Bismillah, ayo jangan banyak cingcong langsung kita ganyang saja!” ucapku sambil mencomot daging ayam di hadapanku. Serta merta mereka melakukan hal yang sama. Kami makan sambil ngobrol, di belai udara malam yang tidak dingin dan tidak panas. Semilir sejuk. Keindahan musim panas memang pada waktu malam. Kala langit cerah. Bulan terang. Bintang-bintang gemerlapan. Dan debu tidak berhamburan. Menikmati suasana alam di atas suthuh apartemen sangat menyenangkan. Nun jauh di sana cahaya lampu-lampu rumah dan gedung-gedung dekat sungai Nil tampak berkerlap-kerlip diterpa angin. Sayup-sayup kami mendengar bunyi irama musik rakyat mengalun di kejauhan sana. Mungkin ada yang sedang pesta. Alunan itu ditingkahi puja-puji syair sufi. Sangat khas senandung malam di delta Nil.

Suasana nyaman ini akan jadi kenangan tiada terlupakan. Dan kelak ketika kami sudah kembali ke Tanah Air, kami pasti akan merindukan suasana indah malam musim panas di Mesir seperti ini.

Usai makan kami tidak langsung turun. Kami tetap bercengkerama ditemani semilir angin dari sungai Nil dan satu botol air segar tamar hindi. Kami bercerita tentang malam-malam berkesan yang pernah kami lewati. Rudi Marpaung yang berasal dari Medan menceritakan pengalamannya menginap bersama teman-temannya ketika masih aliyah di Brastagi. Menyewa vila dan mengadakan shalat tahajjud bersama dalam dinginnya malam. Suasana jadi semakin asyik ketika Hamdi mengisahkan pengalamannya yang menegangkan selama tersesat di lereng Gunung Lawu selama dua hari.

“Kami berempat belas. Dibagi dalam dua kelompok. Kami mencoba jalur baru. Kelompok kami istirahat terlalu lama. Kami mengejar kelompok pertama. Sayang kurang kompak. Kami bertiga tertinggal dan terlunta selama dua hari dalam hutan Gunung Lawu. Hanya pertolongan dari Allah yang membuat kami tetap hidup.”

Sedangkan Saiful yang waktu SMP pernah diajak ayahnya ke Turki bercerita tentang indahnya malam di teluk Borporus. Ia bercerita detil teluk Borporus. Lalu mengajak kami membayangkan bagaimana Sultan Muhammad Al-Fatih merebut Konstantinopel dengan memindahkan puluhan kapal di malam hari lewat daratan dan menjadikan kapal itu jembatan untuk menembus benteng pertahanan Konstantinopel.

Di tengah asyiknya bercengkerama, tiba-tiba kami mendengar suara orang ribut. Suara lelaki dan perempuan bersumpah serapah berbaur dengan suara jerit dan tangis seorang perempuan. Suara itu datang dari bawah. Kami ke tepi suthuh dan melihat ke bawah.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.