Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

Ada tiga pesan:

“Buka jendela sekarang. Aku akan turunkan keranjang.” “Kau sedang apa? Aku sudah turunkan keranjang. Lama sekali.” “Kenapa tidak ada respons?”

Aduh, kasihan Maria. Dia tadi sudah lama membuka jendelanya dan menurunkan keranjang.

Langsung kujawab,

“Afwan. Tadi saya langsung mandi. Jadi tiga pesanmu terakhir baru kubuka setelah mandi. Afwan. Sekarang bisa kau turunkan keranjang.”

Kutunggu respons darinya. Tak lama pesannya masuk,

“O, begitu. Tak apa-apa. Ini kuturunkan keranjangnya.”

Aku bangkit dari tempat tidur. Mengambil dua disket dalam tas. Lalu menuju jendela. Kubuka jendela. Hawa panas langsung masuk. Sebuah keranjang kecil dijulurkan dengan tambang kecil putih dari atas. Ada uang sepuluh pound di dalamnya. Kuletakkan dua disket itu dalam keranjang tanpa menyentuh uang sepuluh pound itu sama sekali.

Kamar Maria memang tepat di atas kamarku, dan jendela kamarnya tepat di atas jendela kamarku. Orang Mesir yang berada di atas lantai dua biasanya memiliki keranjang kecil yang seringkali digunakan untuk suatu keperluan tanpa harus turun ke bawah. Jika ibu-ibu Mesir belanja buah-buahan atau sayur-sayuran pada penjual buah atau penjual sayur keliling, biasanya mereka menggunakan keranjang kecil itu, tanpa harus turun dari rumah mereka yang berada di atas. Mereka cukup pesan berapa kilo, setelah sepakat harganya mereka menurunkan keranjang kecil yang di dalamnya sudah ada uang untuk membayar barang yang dipesannya. Tukang buah atau tukang sayur akan mengisi keranjang itu dengan barang yang dipesan setelah mengambil uangnya. Jika uangnya lebih, mereka akan mengembalikannya sekaligus bersama barang yang dipesan. Barulah si ibu mengangkat keranjangnya seperti orang menimba. Transaksi yang praktis. Pertama kali melihat aku heran. Yang aku herankan adalah begitu amanah-nya penjual buah itu. Mereka tidak curang. Tidak berusaha nakal. Maria atau ibunya juga biasa membeli sayur atau buah dengan cara seperti itu.

Maria mengangkat keranjangnya. Aku menutup jendela. Tak lama kemudian handphone-ku kembali bertulalit. Maria lagi,

“Harganya berapa? Uangnya kok tidak diambil, kenapa?”

Kujawab,

“Harganya zero, zero, zero pound. Jadi tak perlu dibayar.”

Ia menjawab,

“Jangan begitu. Itu tidak wajar.”

Kujawab,

“Harganya seperti biasa. Uangnya kau simpan saja. Kalau kau buat Ruzz bil laban[49] titip ya. Bolehkan?”

Ia menjawab,

“Baiklah kalau begitu. Dengan senang hati. Syukran!”

Kujawab,

“Afwan.”

Klik. Handphone kunonaktifkan. Aku ingin tidur. Pada saat yang sama, kudengar suara pintu terbuka. Lalu suara Hamdi mengucapkan salam. Kujawab lirih. Alhamdulillah dia pulang. Dia nanti akan masak oseng-oseng wortel campur kofta. Aku senang bahwa teman-teman satu rumah ini mengerti dengan kewajiban masing-masing. Kewajiban memasak sesibuk apa pun adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan. Sepertinya remeh tapi sangat penting untuk sebuah tanggung jawab. Masak tepat pada waktunya adalah bukti paling mudah sebuah rasa cinta sesama saudara. Ya inilah persaudaraan. Hidup di negeri orang harus saling membantu dan melengkapi. Tanpa orang lain mana mungkin kita bisa hidup dengan baik.

Sambil rebahan kunikmati suara Syaikh Syathiri membaca Al-Qur’an mengalun indah. Maghrib masih lama. Dalam musim panas, siang lebih panjang dari malam. Aku harus beristirahat. Nanti malam harus kembali memeras otak. Menerjemah untuk biaya menyambung hidup. Ya, hidup ini—kata Syauqi, sang raja penyair Arab—adalah keyakinan dan perjuangan. Dan perjuangan seorang mukmin sejati—kata Imam Ahmad bin Hanbal—tidak akan berhenti kecuali ketika kedua kakinya telah menginjak pintu surga.

* * *

Seperti biasa, usai shalat maghrib berjamaah di masjid kami berkumpul di ruang tengah untuk makan bersama. Kali ini kami hanya berempat. Masih kurang satu, yaitu Si Mishbah. Ia belum pulang. Ia masih di Wisma Nusantara yang menjadi sentral kegiatan mahasiswa Indonesia. Gedung yang diwakafkan oleh Yayasan Abdi Bangsa itu terletak di Rab’ah El-Adawea, Nasr City.

Hamdi baru pulang dari Masjid Indonesia. Ia banyak bercerita tentang anak-anak para pejabat KBRI yang lucu-lucu dan manja-manja. Dibandingkan yang ada di negara lain, KBRI di Cairo bisa dibilang termasuk yang beruntung. Komunitas yang mereka urusi adalah mahasiswa Al Azhar. Kegiatan keislaman dan pengajian antaribu-ibu KBRI juga berjalan lancar. Tiap Ramadhan ada tarawih bersama. Juga ada pesantren kilat untuk putera-puteri mereka. Semuanya dipandu oleh mahasiswa dan mahasiswi Al Azhar. Masalah yang dihadapi KBRI Cairo tidak serumit yang dihadapi oleh KBRI di Saudi Arabia misalnya, yang setiap hari berurusan dengan TKI atau TKW dengan setumpuk masalahnya yang sangat memuakkan. Misalnya, tidak dibayar majikan, disiksa majikan, diperkosa majikan, diperlakukan seperti budak oleh majikan, dihamili oleh sesama tenaga kerja dari Indonesia, ditangkap polisi karena tidak punya izin tinggal resmi, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya.

Masjid Indonesia yang dibangun oleh para pejabat KBRI bahkan telah memiliki perpustakaan yang cukup mengasyikkan bagi putera-puteri mereka. Manajemen masjidnya lumayan baik. Teks khutbah Jum’atnya dibukukan tiap tahun. Masjid Indonesia bahkan biasa menjadi tempat rekreasi para mahasiswa yang ingin melepas penat pikiran. Mereka yang mayoritasnya tinggal di Nasr City, jika merasa bosan bisa main ke Dokki. Silaturrahmi ke rumah pejabat KBRI yang dikenal. Atau ke Masjid Indonesia yang terletak di Mousadda Street. Pergi ke Dokki pada hari Jum’at sangat tepat. Selain shalat Jum’at bersama dan bersilaturrahim dengan sesama orang Indonesia, usai shalat Jum’at biasanya ada makan bersama di belakang masjid. Makanan disediakan oleh para pejabat KBRI muslim secara bergiliran. Jika keadaan ini terus bertahan niscaya sangat indah untuk dikisahkan dan dikenang.

Usai makan, aku melakukan rutinitasku di depan komputer. Mengalihbahasakan kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Kali ini yang aku garap adalah kitab klasik karya Ibnu Qayyim, yaitu kitab Miftah Daris Sa’adah. Dua jilid besar. Kitab berat. Menggarap kitab ini benar-benar menguras pikiran dan tenaga. Aku harus ekstra serius dan hati-hati pada saat Ibnu Qayyim membahas masalah ilmu perbintangan, horoskop, pengaruh planet-planet, ramalan nasib, dan lain sebagainya. Bahasa ilmu falak dan astronomi adalah bahasa yang tidak mudah. Aku terpaksa membuka kamus klasik berkali-kali. Apalagi bahasa yang dipakai Ibnu Qayyim adalah bahasa Arab klasik. Itu saja tidak cukup, harus juga didampingi dengan kamus dan buku astronomi modern. Dan tatkala yang ditulis Ibnu Qayyim telah terang maksudnya, aku bagaikan menemukan mutiara tidak ternilai harganya. Ibnu Qayyim ternyata juga seorang astronom yang luar biasa.

Menerjemahkan sebuah kitab klasik terkadang terasa sangat menjemukan. Namun ketika rasa jemu bisa teratasi kegiatan itu akan berubah menjadi sebuah rekreasi yang sangat mengasyikkan. Andaikan Ibnu Rusyd masih hidup, aku ingin bertanya, rasanya seperti apa ketika dia sedang menerjemahkan karya-karya Aristoteles. Dan seperti apa rasanya ketika telah selesai semuanya?

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.