Baca Novel Online

 

Ayat Ayat Cinta – Habiburrahman El Shirazy

Sampai di flat, tenagaku nyaris habis. Kulepas sepatu dan kaos kaki lalu masuk kamar. Sampai di kamar langsung kunyalakan kipas angin, kulepas tas, topi, kaca mata hitam, dan kemeja putihku. Kuusap mukaku dengan tissu. Hitam. Banyak debu menempel. Aku lalu beranjak ke ruang tengah, membuka lemari es, mencari yang dingin-dingin untuk menyegarkan badan. Begitu membuka pintu lemari es mataku membelalak berbinar. Ada sebotol ashir ashab.[45] Dingin. Kutuangkan untuk satu gelas. Sambil membawa gelas berisia ashir ashab aku berteriak,

“Siapa nih yang beli ashir ashab. Pengertian sekali. Syukran ya. Semoga umurnya diberkahi Allah.”

Rudi keluar dari kamarnya dengan wajah ceria.

“Mas. Ashir ashab itu bukan kami yang beli.”

“Terus dapat dari mana?”

“Tadi diberi oleh Maria.”

“Apa? Diberi oleh Maria?”

“Iya. Katanya untuk Mas. Makanya masih utuh satu botol. Kami tidak menyentuhnya sebelum dapat izin dari Mas. Sekarang kami boleh ikut mencicipi ‘kan Mas?”

“Ah kamu ini ada-ada saja. Kalau ambil ya ambil saja. Yang penting aku disisain. Pakai menunggu izin segala.”

“Masalahnya ini dari Maria, Mas. Sepertinya puteri Tuan Boutros itu perhatian sekali sama Mas. Jangan-jangan dia jatuh hati sama Mas.”

“Hus jangan ngomong sembarangan! Mereka itu memang tetangga yang baik. Sejak awal kita tinggal di sini mereka sudah baik sama kita. Bukan sekali ini mereka memberi sesuatu pada kita.”

“Tapi kenapa Maria bilang untuk Mas. Bukan untuk kita semua?”

“Lha ketahuan ‘kan? Kau cemburu, jangan-jangan kau yang jatuh cinta. Ya udah nanti biar kusampaikan sama Maria dan Tuan Boutros ayahnya, kalau memberi sesuatu biar yang disebut namamu hehehe.”

“Jangan Mas. Bukan itu maksudku?”

“Terus?”

“Tapi Maria sepertinya punya perhatian lebih pada Mas.”

“Akh Rudi, kamu jangan berprasangka yang bukan-bukan. Kamu ‘kan tahu. Maria berbuat begitu atas nama keluaganya, atas petunjuk ayahnya yang baik hati itu. Dan karena kepala keluarga di rumah ini adalah aku, maka tiap kali memberi makanan, minuman atau menyampaikan sesuatu ya selalu lewat aku, as a leader here. Dia menyampaikan sesuatu atas nama keluarganya dan aku dianggap representasi kalian semua. Jadi ini bukan hanya interaksi dua person saja, tapi dua keluarga. Bahkan lebih besar dari itu, dua bangsa dan dua penganut keyakinan yang berbeda. Inilah keharmonisan hidup sebagai umat manusia yang beradab di muka bumi ini. Sudahlah kau jangan memikirkan hal yang terlalu jauh. Tugas kita di sini adalah belajar. Kita belajar sebaik-baiknya. Di antaranya adalah belajar bertetangga yang baik. Karena kita telah diberi, ya nanti kita gantian memberi sesuatu pada mereka. Wa idza huyyitum bi tahiyyatin fa hayyu bi ahasana minha!”[46]

“Saya mengerti, Mas. Afwan jika ucapan saya tadi ada yang kurang berkenan.”

“Udah jangan dipikir. Emm..bagaimana makalahmu? Sudah selesai?”

“Alhamdulillah, Mas.”

“Kapan dipresentasikan?”

“Sabtu sore.”

“Di mana?”

“Di Wisma Nusantara.”

“Ma’at taufiq.”[47]

Aku melangkah ke kamar sambil membawa segelas ashir ashab. Kuselonjorkan kakiku di atas karpet. Punggungku kusandarkan ke pinggir tempat tidur. Untung tembok apartemen ini tebal. Jendelanya rapat. Sehingga udara panas di luar apartemen tidak mudah menembus masuk. Meskipun agak hangat tapi tidak sepanas di luar. Dan dengan kipas angin sudah cukup membuat udara yang hangat itu menjadi sejuk. Kuteguk ashir ashab. Perlahan. Dingin mengaliri tenggorokan. Oh luar biasa nikmatnya. Di kawasan beriklim panas, seperti Mesir dan negara Timur Tengah lainnya, air dingin memang sangat menyenangkan. Jika air dingin itu membasahi tenggorokan yang kering rasanya seperti meneguk air sejuk dari surga, tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Orang yang kehausan di tengah sahara yang paling ia damba dan ia cinta adalah air dingin penawar dahaga. Tak ada yang lebih ia cinta dari itu. Di sinilah baru bisa kurasakan betapa dahsyat doa baginda Nabi,

‘Ya Allah jadikanlah cintaku kepada-Mu melebihi cintaku pada harta, keluarga dan air yang dingin’.

Beliau meminta agar cintanya kepada Allah melebihi cintanya pada air yang dingin, yang sangat dicintai, disukai, dan diingini oleh siapa saja yang kehausan di musim panas. Di daerah yang beriklim panas, cinta pada air yang sejuk dingin dirasakan oleh siapa saja, oleh semua manusia. Jika cinta kepada Allah telah melebihi cintanya seseorang yang sekarat kehausan di tengah sahara pada air dingin, maka itu adalah cinta yang luar biasa. Sama saja dengan melebihi cinta pada nyawa sendiri. Dan memang semestinya demikianlah cinta sejati kepada Allah Azza Wa Jalla. Jika direnungkan benar-benar, baginda Nabi sejatinya telah mengajarkan idiom cinta yang begitu indah.

Setelah keringat hilang, dan ubun-ubun kepala mulai dingin aku bangkit hendak mengambil handuk. Aku harus mandi, badan rasanya tidak nyaman. Harus dibersihkan dan disegarkan. Baru menyentuh handuk, handphone-ku memerik singkat. Ada sms masuk. Kubuka. Dari Maria,

“Sudah pulang ya? Bagaimana dengan titipanku, dapat?”

Langsung kujawab,

“Dapat. Terima kasih atas ashir ashabnya.”

Kuletakkan handphone-ku di atas meja. Aku langsung bergegas mandi. Baru menutup kamar mandi yang bersebelahan dengan kamarku, kudengar si handphone memekik lagi. Maria pasti mengirim pesan balik. Ah, biar, nanti saja setelah mandi. Kuputar kran wastafel. Aku ingin cuci tangan. Air mengalir. Kusentuh. Hangat sekali. Berarti pipa-pipa yang berada di dalam tanah berpasir yang mengalirkan air dari tandon raksasa itu telah panas. Aku jadi teringat saat umrah ke Saudi di puncak musim panas tahun lalu. Baik siang atau pun malam, kalau hendak mandi harus mendinginkan air dulu di ember besar. Sebab air yang keluar dari kran sangat panas. Harus ditampung di ember besar dan ditunggu sampai dingin. Kulihat bath-tub penuh dengan air. Alhamdulillah, teman-teman sangat pengertian dan cerdas. Aku bisa langsung mandi tanpa menunggu air dingin. Ketika air menyiram seluruh tubuh rasa segar itu susah diungkapkan dengan bahasa verbal. Habis mandi tenaga rasanya pulih kembali.

Usai berganti pakaian kurebahkan diriku di atas kasur. Oh, alangkah nikmatnya. Ini saatnya istirahat. Kunyalakan tape kecil di samping tempat tidur. Enaknya adalah memutar murattal[48] Syaikh Abu Bakar Asy-Syathiri. Suaranya yang sangat lembut dan indah penuh penghayatan dalam membaca Al-Qur’an sering membawa terbang imajinasiku ke tempat-tempat sejuk. Ke sebuah danau bening di tengah hutan yang penuh buah-buahan. Kadang ke suasana senja yang indah di tepi pantai Ageeba, pantai laut Mediterania yang menakjubkan di Mersa Mathruh. Bahkan bisa membawaku ke dunia lain, dunia indah di dalam laut dengan ikan-ikan hias dan bebatuan yang seperti permata-permata di surga. Dalam keadaan lelah selalu saja suara Syaikh Abu Bakar Asy-Syathiri menjadi musik pengantar tidur yang paling nikmat. Meski terkadang aku harus terlebih dahulu meneteskan air mata, kala mendengar Syaikh Syathiri sesengukan menangis dalam bacaannya. Kunyalakan murattal Syaikh Syatiri. Suaranya yang indah langsung mengelus-elus syaraf-syarafku. Mataku mulai liyer-liyer hendak terpejam. Tiba-tiba handphone-ku kembali memekik. Aku teringat sesuatu. Titipan Maria. Kubaca pesan Maria.

Categories:   Romantis

Comments

  • Posted: November 11, 2015 13:55

    jaka ferdy

    is very good
  • Posted: March 3, 2016 02:42

    fida kurnia

    bagus sekali.....
    • Posted: March 7, 2016 08:26

      fida kurnia

      yang bayak dong novel nya
  • Posted: March 16, 2016 03:02

    nizar al fahmi

    siah... begus apa ? deggik la tak kenneng beca
  • Posted: March 21, 2016 17:48

    mokhamad sidik

    asik bnget critanya!!!
  • Posted: May 1, 2016 11:37

    Mughni Nurillah

    Ya Allah indahnya bisa baca novel islami ini. Novel yang bener2 bermanfaat. Novel islami seperti ini yang harusnya banyak di toko2 buku atau perpustakaan
  • Posted: October 22, 2016 17:49

    Banjar sakti

    Novel karangan habiburrahman alsirazy yang lain ada gak gan. Seru banget..
  • Posted: October 24, 2016 15:51

    A

    bagus
  • Posted: March 6, 2017 13:02

    rahmat

    ini akan menjadi motifasi bagi yang membaja saya merasakan betapa indahnya novel ini
  • Posted: August 11, 2017 07:25

    IfaMunawar

    Subhanalloh,Subhanalloh. Saya seperti merasakan nuansa yg ada didalam Novel ini, sungguh novel penggugah jiwa untuk saya.
  • Posted: August 21, 2017 23:56

    Hilman

    Alhamdulillah bisa baca novel ini secara online
  • Posted: October 8, 2017 02:45

    asmawi

    alhamdulillah bisa membaca novel ayat-ayat cinta menggantikan kerinduanku dengan filmnya terdahulu
  • Posted: November 4, 2017 17:33

    agil reno

    Keren banget ceritanya

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.